Takut Mati

Banyak yang beranggapan bahwa yang paling menakutkan di dunia ini adalah kematian. Banyak dari kita akan menjawab seperti itu bila ditanya tentang hal apa yang paling anda takuti di dunia ini. Mungkin jawaban itu terlintas di kepala kita karena kita benar2 blank dan tidak tau apa2 tentang kematian, misterius dan selalu ada cerita2 mistis yang meliputinya. Terlintas dalam benak kita bagaimana rasanya kalau tiba2 nafas kita terhenti. Sakitkah? Badan kita menjadi dingin dan kaku. Kulit menjadi pucat dan mata terpejam. Kita menjadi bisu, tak lagi bisa bersuara. Dan akhirnya kita dikubur dan tak bisa lagi memberontak, saat tanah ditimbunkan ke tubuh kita. Kematian  menjadi akhir dari semua awal, dan menjadi ujung dari semua pangkal.

Ternyata, sebenarnya kebanyakan dari kita tidak sungguh-sungguh takut kepada kematian. Bahkan banyak pula yang malah menantang kematian. Kita tetap saja berani datang ke upacara pemakaman saudara atau sejawat kita yang meninggal, dan bukan perasaan takut yang muncul, tapi perasaan sedih karena ditinggalkan orang yang kita cintai. Orang yang takut datang ke acara pemakaman dianggap mempunyai masalah dengan mentalnya. Tidak hanya itu, banyak orang yang memilih melakukan hal2 ekstrim yang mungkin bisa berakibat kepada kematian hanya untuk kesenangan atau menunjukkan eksistensinya.

Mungkin memang benar kematian itu menakutkan, tapi tidak lebih menakutkan dibandingkan hantu pocong atau hantu jeruk purut, karena sesungguhnya mitos di seputar kematianlah yang kita takutkan. Kita takut dengan suasana yang meliputinya. Kita takut dengan kemisteriusannya. dan rasa takut itu hilang setelah kita tidak lagi memikrkannya.

Tapi, benarkah kita tidak benar2 takut mati saat kita sedang sakit parah? atau saat kita divonis mengidap penyakit yang belum ada obatnya?  Atau saat kita mendapat vonis hukuman mati? Atau mungkin yang percaya ramalan, ketika diramal bahwa dalam beberapa hari lagi kita akan mati? Mmm… saya rasa iya. Tekanan dari situasi yang berat seperti itu membuat kita setiap saat diliputi rasa cemas karena pikiran akan kematian selalu muncul dan sulit untuk dihilangkan. Perasaan ngeri yang penuh ketidak pastian ini akan menimbulkan stres. Dan mungkin bisa mengakibatkan gangguan jiwa.

Ternyata manusia mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk menghadapi tekanan yang luar biasa pula. Kemampuan ini telah dikembangkan manusia sepanjang proses evolusinya. Manusia selalu beradaptasi dengan apa yang terjadi pada dirinya dan apa yang terjadi dengan lingkungannya. Perdebatan tentang evolusi bukan pada tempatnya di sini, tetapi terus terang saya memang termasuk darwinis.

Kematian menjadikan kita, manusia mengembangkan kepercayaan2 terhadap mitos2 tertentu. Mitos2 itu diyakini sebagi kebenaran dan kita menjadi tidak lagi takut kepada kematian jika telah menjalankan kepercayaan itu. Dengan mengembangkan keyakinan itu, kita menjadi merasa tenang dan kematian kita anggap hanyalah sebagai suatu fase yang memang harus dilewati. Adaptasi ini menjadi penting saat kita berada dalam tekanan dan dekat dengan kematian. Kita menjadi lebih pasrah dan siap menerima apapun yang akan terjadi, dan dg demikian kita masih tetap bisa tertawa dan menikmati hari2 kita sampai akhirnya kita selesai…

Ditulis dalam opini. Tag: , , , , . 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Takut Mati”

  1. nelangsa Says:

    Kematian hanya Allah yang tahu, manusia hanya dapat menjalani kehidupan ini dengan pasrah. Namun juga jangan melupakan untuk beribadah dan berdoa sehingga ketika kematian itu datang, kita tetap dapat tersenyum.
    🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: