Sumpah Palapa II

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Saya yakin tidak banyak yang hafal kalimat di atas. Mungkin kalau pernah dengar atau pernah membacanya, iya pernah. Tapi kalau hafal, saya rasa 1001. Bisa dibilang kalimat ini tidak populer. Mungkin malah ada yang mengira kalimat ini adalah kata2 yang diucapkan seorang dalang dalam pertunjukan wayang atau syair tembang yang dinyanyikan oleh seorang sinden. Sesungguhnya kalimat di atas adalah sebuah kalimat yang maha dahsyat. Dari sanalah Indonesia menjadi ada. Bisa jadi, jika tidak ada kalimat itu Indonesia tidak akan ada. Benarkah? Kok bisa?

Tentu saja bisa, karena kalimat itu adalah Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada. Tujuh abad silam Gajah Mada dengan lantang mengucapkannya di hadapan Ratu Tribuwana Tunggadewi saat penobatannya menjadi Mahapatih Majapahit. Sebuah sumpah untuk tidak mengecap kesenangan duniawi sebelum dia berhasil menyatukan Nusantara. Tidak hanya mengucapkannya saja (baca:omdo) tetapi dia mampu membuktikannya hanya dalam waktu singkat, hanya selama dia menjabat sebagai Mahapatih Majapahit. Itu artinya, dia tidak perlu mewariskan ambisinya kepada Mahapatih berikutnya. Bahkan saking dahsyatnya sumpah Palapa Gajah Mada banyak yang memistiskan sumpah itu, dengan mengatakan sebagai Sumpah Sakti Palapa.

Dalam menjalankan sumpahnya, tidak sedikit hambatan dan tentangan yang harus dihadapi Gajah Mada. Saat mengucapkannya saja,  ia sudah banyak mendapatkan tentangan dan ejekan dari pejabat2 Majapahit saat itu. Tapi dengan tekad, keberanian dan kapasitasnya yang luar biasa sebagai seorang Mahapatih yang merangkap panglima perang dia mampu mewujudkan sumpahnya untuk menjadikan Majapahit sebagai sebuah kerajaan besar.Di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada sebagai Mahapatih, Majapahit berhasil memperluas wilayahnya hampir ke seluruh Nusantara, bahkan wilayah yang saat ini adalah Malaysia, Singapura, Brunei dan bagian selatan Philipina dulu termasuk wilayah Majapahit. Bisa dibilang, Majapahit adalah salah satu kerajaan besar di dunia saat itu.

Dari Sumpah Palapa lah, Soekarno, Presiden pertama kita terinspirasi untuk menyatukan Nusantara kembali setelah perang kemerdekaan melawan kolonial Belanda. Nusantara adalah kata yang diucapkan Gajah Mada untuk menyebutkan Indonesia. Mungkin tanpa adanya Sumpah Palapa Gajah Mada Indonesia menjadi tercerai berai, karena terdiri dari banyak pulau dan suku yang berbeda2. Jadi tidak salah kalau dari Sumpah Palapa lah cikal bakal Indonesia

Berbeda dengan kejayaan zaman Majapahit, coba kita lihat keadaan Indonesia sekarang. Krisis moneter tak kunjung selesai, malah sekarang terkena juga dampak krisis moneter global, jadi krisis moneter kuadrat. Orang miskin makin banyak. PHK merajalela. Di setiap perempatan jalan, pengemis, pengamen dan pedagang asongan ngantor setiap harinya. Orang ngantri sembako dan minyak tanah bisa sepanjang gerbong kereta. Menurut saya, Indonesia sekarang ini masih terpuruk, walaupun ada yang bilang Indonesia sudah mulai merangkak. Tapi saya rasa semua sepakat bahwa Indonesia tidak berlari.

Sekarang ini yang kita perlukan adalah orang2 seperti Gajah Mada. Yang punya kapasitas dan berani bersumpah untuk negerinya, dan yang paling penting dalam waktu singkat dapat mewujudkan sumpahnya. Saya sengaja pertebal kata2 dalam waktu singkat, karena banyak pejabat kita mengobral janji tapi alih2  mewujudkannya dalam waktu singkat malah selalu beralasan bahwa menyelesaikan masalah ini itu tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menutupi ketidakmampuannya atau ketidakmauannya. Kapasitas dan good will menjadi dua syarat mutlak yang tidak terpisahkan. Tapi, yang banyak malahan hanya modal PD saja sudah berani mengajukan diri untuk berjanji pada bangsa ini. Kapasitas dan good will nol besar. Ada beberapa yang sudah punya good will, tapi kapasitas tidak ada. Yang kita perlukan saat ini adalah orang2 yang mempunyai keduanya.

Untuk permulaan, kita cukup mempunyai satu lagi orang seperti Gajah Mada untuk Republik ini. Satu orang yang mampu memimpin bangsa ini menuju kejayaan. Satu orang yang berani bersumpah Palapa II yang kira2 isinya tidak akan mengecap kebahagiaan duniawi sebelum Indonesia mencapai kejayaannya di dunia dan mampu mewujudkannnya dalam waktu singkat.

Satu Tanggapan to “Sumpah Palapa II”

  1. RCO Says:

    Nusantaranya Majapahit lebih luas dari Nusantara saat ini, Sumpah Palapa II harusnya lebih ringan dari yang pertama.

    “ada yang berani nggak ya?”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: