Valentine Day

Artikel ini merupakan komentar saya untuk artikel “Apakah Wajar Merayakan Hari Valentine?” tulisan teman kita Masdin di blog putradesa.blogdetik.com.

Saya salut dengan tulisan teman kita, Masdin. Saya sendiri paling malas mencari data yang akurat dalam tulisan saya. Makanya kebanyakan tulisan saya paling2 saya masukkan ke kategori opini.Tapi Teman kita Masdin telah memaparkan sebuah tulisan yang bisa dikatakan cukup lengkap dalam hal point of view dan data.

Saya akan mencoba mengkritisi tulisan tersebut. Tulisan ini tidak saya maksudkan untuk berpolemik tapi untuk saling menambah ilmu dan wawasan.

Dalam tullisan teman kita, asal-usul hari valentine sepertinya menjadi titik berat. Menurut saya, kalau kita selalu melihat asal usul dari apa yang kita kerjakan atau kita gunakan atau yang melekat pada diri kita pasti sangatlah merepotkan. Coba kita bayangkan kalau kita harus mengecek asal-usul pekerjaan kita, asal-usul kota yang kita tinggali, asal-usul rumah yang kita tempati, atau asal-usul makanan yang kita makan. Apakah hal-hal itu pada awal sejarahnya tidak diliputi sejarah hitam? Misalnya asal-usul profesi mandor, mungkin saja dulu adalah pekerjaan yang menyiksa budak. Apakah menjadi jelek bekerja sebagai mandor? Tidak ada salahnya dan mkn dianjurkan untuk melihat dan mengetahui asal-usul dari banyak hal, tapi tidak selalu harus. Yang paling penting, kita harus pintar dalam mengambil pelajaran dari asal usul sesuatu. Mungkin valentine mempunyai sejarah kelam, tapi apakah perayaan valentine sekarang membawa keburukan ataukah banyak juga yang mendapatkan kebaikan dari merayakan valentine? Asal-usul penting tapi tidak untuk dijadikan alasan menghakimi sesuatu.

Penting nggak sih sebenarnya mengetahui asal-usul seuatu? Menurut saya walupun tidak terlalu penting tapi berguna jika kita tahu asal-usul sesuatu. Asal-usul dan sejarah memberi kita pelajaran berharga, menginspirasi kita dan menjadikan kita lebih bijak dalam menjalani hidup ini. Kita banyak belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu untuk memperbaiki kehidupan kita saat ini dan di masa mendatang. Sejarah membuka lebar mata kita bahwa segala yang buruk akan berakibat buruk dan yang baik akan membawa kebaikan. Sejarah membuka mata kita akan arti jahatnya perang dan pentingnya perdamaian. Sejarah membuka pemahaman kita akan arti penting HAM. Sejarah memberi pelajaran kepada kita bagaimana seharusnya memperlakukan wanita. Dan sejarah pulalah yang membuat kita mengerti akan kejamnya perbudakan. Nilai2 kebaikan sering kita sadari pentingnya setelah kita melewati kelamnya sejarah. Yang kita pelajari dari sejarah adalah esensi dari nilai2 yang terkandung di dalamnya.

Tentu saya tidak mengetahui apakah perayaan valentine membawa lebih banyak manfaat atau lebih banyak mudaratnya. Saya belum membaca satupun penelitian tentang itu. Tapi kita semua tahu bahwa saat ini valentine dirayakan oleh jutaan manusia di seluruh dunia. Saya rasa pasti banyak yang merasa perlu untuk merayakannya walaupun pasti ada juga yang hanya ikut2an atau tidak merayakan sama sekali atau bahkan membencinya. Apakah kita harus mencari angka pastinya? Saya rasa tidak. Kalau benar ada yang membenci hari valentine karena merasa kesepian pada hari itu, yang perlu kita tingkatkan adalah konseling2 psikologi terhadap orang2 yang menyimpang dalam memaknai valentine. Rasa peduli dan persahabatan juga harus dipupuk karena kesepian dan perasaan ditinggalkan lah pangkal dari depresi, bukan karena hari valentine.

Kalau memang benar penelitian para ahli menyebutkan bahwa ada korelasi antara peningkatan angka bunuh diri dengan perayaan hari valentine, saya setuju dengan perlunya dilakukan studi lanjut dan strategi khusus untuk mengantisipasi dan mencegah hal ini. Tentu saja merupakan ironi apabila pada saat perayaan yang seharusnya menghadirkan suasana hati yang bahagia malah rasa depresi dan tragedi yang muncul. Tapi perlu kita ingat bahwa Penelitian ahli akan dipercayai sebagai sebuah kebenaran apabila telah mengalami banyak kroscek dari banyak ahli lain. Dan akan secara alami menjadi kebenaran yang diyakini banyak orang apabila banyak penelitian lain membenarkannnya. Disinilah dimensi waktu berperan  karena kita tidak boleh memaksakan sesuatu yang kita yakini sebagai kebenaran kepada orang lain. Kesabaran kita diuji disini.

Mengenai peningkatan konsumsi pada saat hari valentine. Justru menurut saya tanpa konsumsi perekonomian tidak akan berjalan. Berputarnya mesin ekonomi adalah apabila ada produksi, distribusi dan konsumsi. Bagaimana nasib tukang sepatu kalau tiba2 pemakaian sepatu dilarang. Bagaimana pabrik2 akan menggaji karyawannya kalau sepatu produksinya tidak ada yang membeli. Bagaimana sebuah negara akan menggaji pegawai negeri dan membangun negaranya jika tidak mendapatkan pajak dari pengusaha2. Sistem ekonomi tidak akan berjalan tanpa ada konsumsi. Kita tidak boleh menghambat konsumsi tapi kita harus meningkatkan produksi. Selalu akan ada keseimbangan ekonomi apabila setiap orang memproduksi dan mengkonsumsi. Produksi tidak hanya terbatas barang tetapi juga jasa, jadi semua orang yang bekerja sebenarnya berproduksi. Tentu saja agar keseimbangan itu terjadi tidak boleh konsumsi melebihi produksi. Bahkan kalau kita lihat, banyak perayaan2 atau festival2 yang menimbulkan kemajuan tempat yang menyelenggarakannya karena disanalah mesin ekonomi berputar dengan baik.

Tentang hari valentine bukan budaya Islam, penulis sendiri telah menjawabnya bahwa Kristen juga bukan asal-usul dari valentine. Jadi tidak ada kontradiksi Islam-Kristen dalam hal ini.

5 Tanggapan to “Valentine Day”

  1. masdin Says:

    Salam kenal mas Widianto. Gak nyangka bakal ada d’blogger yang sampai menyempatkan menulis tanggapan yang begitu mendalam terhadap postingan saya🙂 Makasih mas atas tanggapannya. Mudah2an rekan d’blogger yang lain menyempatkan juga membaca tanggapan mas.

    Salam kenal dari Masdin (http://linguist.nr)

    “salam kenal juga… sebenarnya saya hanya mencoba melihat sesuatu dr sisi yg berbeda.. gpp kan..? sukses ya! semoga bisnisnya lancar selalu..”

  2. masdin Says:

    eh… url websitenya salah ketik => (http://linguist.co.nr)🙂

  3. depz Says:

    setuju banget bang🙂

  4. coolk45 Says:

    tul mas, klw usul ga’ boleh asal, jangan asal klw usul😀, bingung kan?! daripada bingung mending main ket4 Q di http://www.coolk45.blogdetik.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: