Cinta Indonesia

Jika anda tidak sedang sibuk, coba anda tanyakan pada seorang pengemis, apakah dia mencintai negaranya, Indonesia. Kemudian, coba anda tanyakan juga pertanyaan yang sama kepada seorang konglomerat. Mungkin akan lebih menarik kalau anda menanyakannya pada lebih banyak pengemis dan konglomerat. Coba anda bandingkan, apakah jawabannya akan sama? Pengemis dan konglomerat, apakah mereka sama2 mencintai negeri ini? Atau mungkin hanya konglomerat saja yang mencintai negeri ini?

Mungkin di antara pengemis yang anda tanyai akan mengatakan, “saya kan sejak lahir tinggal di Indonesia, jadi saya ya cinta Indonesia. Saya lebih memilih tinggal disini sampai meninggal. Walaupun ada yang menjamin saya hidup lebih baik di luar negeri, tapi saya tidak mau berpisah dengan keluarga saya”. Apakah jawaban ini menunjukkan dia cinta indonesia? Ataukah dia cinta keluarganya? Saya hampir bisa memastikan bahwa jawaban tersebut menunjukkan bahwa dia mencintai keluarganya. Saya yakin, dia akan memilih tinggal di luar negeri dengan jaminan hidup lebih baik seumur hidupnya jika bersama2 dengan seluruh keluarganya.

Apakah sebenarnya parameter yang paling tepat untuk mengukur rasa cinta kepada negara? Apakah tingkat kemakmuran seseorang, seberapa besar negeri ini telah memberi kemakmuran kepada orang tersebut? Apakah tingkat pendidikan seseorang, makin pintar seseorang makin tidak mencintai Indonesia dan lebih memilih tinggal di luar negeri? ataukah tingkat kemajuan negara itu, makin maju sebuah negara makin cinta rakyatnya kepada negara tersebut? Atau mungkin seberapa besar cinta seseorang kepada produk2 dalam negeri lah  yang paling tepat untuk mengukur rasa cinta terhadap negaranya?  Cukup sulit memang untuk mencari parameter yang paling tepat.  Mungkin harus menggunakan banyak parameter untuk mencari jawaban akurat tingkat cinta seseorang kepada negaranya.

Saya mempunyai sebuah hipotesis bahwa kemajuan sebuah negara dipengaruhi oleh cinta rakyatnya. Makin tinggi rasa cinta rakyat kepada negara itu makin akan meningkatkan kemajuan negara itu. Mungkin cinta rakyat kepada negaranya merupakan faktor terpenting. Saya rasa tidak berlebihan kalau saya katakan satu orang yang mencintai negeri ini lebih berharga daripada sebuah tambang mas. Mungkin anda bilang berlebihan. Sesungguhnya tidak, karena satu orang yang mencintai negeri ini bisa menghadiahkan sebuah tambang emas untuk Indonesia, bahkan mungkin lebih. Seandainya 250 juta bangsa Indonesia mencintai dengan tulus negeri ini, anda bisa menghitungnya, berapa banyak tambang emas yang akan dimiliki Indonesia.

Agar rasa cinta ini makin besar, haruslah dipupuk. Bagaimana memupuk rasa cinta? Saya rasa dengan mengekspresikannya. Seorang anak akan makin mencintai Ibunya jika dia selalu mengekspresikannya. Rasa cintanya akan meluntur jika dia tidak pernah lagi memberikan hadiah ulang tahun kepada ibunya. Dengan mengekspresikan, cinta menjadi nyata. Cinta menjadi bermakna.

Jika anda sekarang ini termasuk warga negara Indonesia yang kurang atau tidak mencintai Indonesia, saya sarankan mulai sekarang anda pupuk rasa cinta anda kepada negeri ini, demi kemajuan negeri ini. Yang harus anda lakukan pertama kali adalah cukup hanya dengan merasa percaya diri menjadi orang Indonesia. Rasa percaya diri penting karena dari sana akan tumbuh rasa bangga yang kemudian menjadi cinta. Rasa minder menjadi bangsa Indonesia akan membuat bangsa lain makin merendahkan kita. Menjadi negara yang percaya diri adalah modal pertama menjadi negara yang penting bagi dunia.

Jika anda merasa sudah cinta kepada Indonesia, apakah anda sudah mengekspresikannya? Sudahkah anda menghadiahkan sebuah tambang emas kepada Indonesia?

10 Tanggapan to “Cinta Indonesia”

  1. a-rief Says:

    susah memang menilai seberapa besar cinta qt pada negeri ini.
    tapi memang benar, kalo qt udah cinta, qt akan melakukan apapun untk kemajuan negeri ini

    “benar mas arif.. indonesia memang butuh cinta sekarang ini… thx comentnya”

  2. indyyeah Says:

    Orang yang mencintai negaranya akan mencintai alamnya dan mencintai sesama warga, dalam arti berusaha melakukan yang terbaik demi mendahulukan kepentingan bersama.

    Namun saat ini, terlalu banyak orang yang lebih cinta diri sendiri daripada mencintai negara tempat mereka hidup.

    “tidak gampang ya untuk mencintai negara di zaman kapitalisme ini..”

  3. lischantik Says:

    Lilis tetep cinta indonesia dari dulu hingga kini

    “janji ya, tidak pindah ke lain hati :)”

  4. masdin Says:

    Bagaimana yah, sering kita dengar orang Indonesia sendiri yang berkata seperti “kenapa Indonesia begini”, “kasihan banget Indonesia”, “beginilah kalau kita tinggal di Indonesia”, bahkan ada yang mengatakan “saya malu jadi orang Indonesia”. Wadooh bagaimana bisa cinta kepada Indonesia?😀

    “sedih ya… :(“

  5. coolk45 Says:

    salam kenal, untuk mewujudkan rasa cinta pada negeri ini
    Mari cintailah produk2 dalam negeri, contohnya ya blogdetik ini
    tak kenal maka tak sayang, biar lebih kenal ya kunjungi blog temen2 termasuk aq di http://www.coolk45.blogdetik.com

    “salam hangat.. saya suka kok mengunjungi blog temen2… sambil curi2 inspirasi.. boleh dong.. hehhee”

  6. coolk45 Says:

    I Love Indonesia. I Love dblogger, I Love……
    http://www.coolk45.blogdetik.com

    “saya rasa anda akan bilang, kalau anda cinta blog saya… hahhaha. thx dah mampir..”

  7. tonosaur Says:

    hmm..
    nah jika diibaratkan hubungan ibu dan anak,,
    gimanakah cara seorang ibu untuk menanamkan rasa cinta pada diri anaknya..???

    gimana pula negara ini bertindak untuk rakyat..???

    OK yang salah bukanlah negaranya tapi pemerintahnya..

    selamat malam.

    “seharusnya seorang pemerintah adalah seorang negarawan. selamat malam.. thx dah mampir”

  8. aerka Says:

    Jangan tanyakan pada negara apa yang telah kau dapatkan darinya, tapi tanyalah diri sendiri, apa yang sudah kau perbuat untuk negara. Kalau tidak salah itu adalah perkataan George Washington.
    Prinsip memberi akan lebih mulia dan membawa pada kejayaan, daripada menuntut pada negara tentang apa yang kita inginkan. Selama ini wacana HAM telah membuat orang banyak menuntut, tapi kenapa tidak terlintas wacana KAM (Kewajiban Asasi Manusia)? kalau kewajiban ditunaikan, hak akan terpenuhi tanpa harus menuntut.

    “menuntut hak sama pentingnya dengan menjalankan kewajiban. Hidup di dunia yang tidak jelas mana yang menang, kebenaran apa kejahatan, anda tidaklah boleh diam saja. Teman utama kejahatan adalah diam.”

  9. choromaster Says:

    Sebagai bukti Kecintaan saya pada Indonesia, saya ikut ngasih makan ikan di akuariumnya mas…..terutama ikan yang warna merah, saya tunggu ikan putihnya.

    “anda benar2 telah membuktikannya… sementara saya belum. Buktinya, sampai sekarang saya aja masih meragukan, ikan putih bisa struggle nggak ya di aquarium saya…”

  10. tya Says:

    hehehe…

    “hehehe…”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: