Over Estimate

Nonton acara bukan empat mata cukup membuat otak jadi kembali fres. Lelucon2 Tukul yang spontan dan sering tak terduga selalu saja berhasil membuat saya cengengesan. Tukul memang piawai membuat penontonnya tidak cepat bosan. Hebatnya lelucon yang sering diulang2 pun tidak membuat saya bosan, saya tetap terbahak2 walaupun pernah mendengar lelucon yang sama, mungkin bukan hanya karena leluconnya saja yang lucu tapi muka tukul yg unik katrok  jugalah yang membuat saya tidak bisa menahan tawa.

Dalam setiap kesempatan Tukul bisa mengerjai bintang2 tamunya yang beberapa kali termasuk orang2 terkenal yang disegani. Dengan kecanggihannya menyeletuk dan membalas celetukan dia bisa membuat bintang tamu yang dihinanya tidak marah, malah ikut tertawa bersama. Lebih lucu lagi saat dia terpancing untuk memberi nasehat atau kata2 bijak dengan serius, penonton tidak mau mendengarnya sampai selesai. Alih-alih mendengarkan, mereka malah rame2 meneriakinya. Sepertinya penonton takut sekali kehilangan sosok tukul yg lucu.

Tentu saja Tukul adalah manusia biasa yang kadang2 tidak lucu. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada dalam Guinness Book Record, komedian yang membuat rekor melawak  terus menerus misalnya selama satu minggu dan berhasil membuat penontonnya terus tertawa. Kalau ada, saya mengusulkan agar Tukul memecahkannya. Tukul kadang2 terpancing untuk memberikan nasehat kepada pemirsa. Ini mungkin dianggap ancaman oleh produsernya. Bagaimana pun produser tentu khawatir acara talk shownya yang mengandalkan kekatrokan Tukul malah ditinggakan penontonnya gara2 hostnya menjadi pintar. Produser dengan idenya yang cukup jenius, membuat nasehat2 tukul tetap tersampaikan kepada pemirsa tapi tetap dibungkus komedi yang orisinil. Jika Tukul menyampaikannya tidak lucu, penonton di studio menyorakinya dan Tukul melakukan gerakan2 yg lucu, penontonpun tetap tertawa, tapi sering pula Tukul menyampaikan nasehatnya dengan cara dan kata2 yang lucu. Jika ini yang terjadi, penonton di studio tidak menyorakinya karena langsung tertawa. Salah satu kata yang berkesan buat saya adalah kata “under-estimit”.  Mungkin saya salah mengeja bahasa tumbuh2an ini. Dengan pengucapan bahasa Inggris yang salah tetapi lucu, Tukul berhasil mempopulerkan kata ini. Kata ini juga yang menginspirasi saya untuk membuat postingan ini. Saya menemukan lawan kata dari “under-estimit” yaitu “over-estimit”

Saya merasa saya  lebih mudah menyadari bahwa saya under estimate kepada orang lain atau sesuatu tetapi saya sering tidak menyadari bahwa saya over estimate kepada orang lain atau sesuatu. Saya sudah lama menyadari kalau saya meremehkan teman saya misalnya, tapi baru2 ini saja saya menyadari bahwa saya over estimate terhadap profesi tertentu yang bagi saya terlihat keren, atau teman saya yang sukses yang terlihat hebat, atau orang terkenal yang terlihat wah, atau kemampuan tertentu yang tampak sangat sulit dan tidak mungkin saya menguasainya. Under estimate adalah bentuk kesombongan dimana kita memandang rendah sesuatu, sedangkan over estimate adalah ekspresi keminderan, memandang sesuatu lebih tinggi, lebih besar, lebih hebat, lebih sulit, lebih keren dari yang sebenarnya sehingga saya merasa tidak mampu menjangkaunya, padahal yang sebenarnya tidak setinggi, sebesar, sehebat, sesulit, sekeren yang saya kira.

Saya percaya sikap over estimate ini lebih berbahaya dibandingkan dengan under estimate. Sikap under estimate jika tidak disertai sikap membunuh karakter orang yang menjadi obyek under estimate tidaklah berbahaya. Sedangkan sikap over estimate adalah suicide. Tanpa sadar kita melukai, menggembosi, mengerdilkan atau bahkan membunuh karakter kita sendiri. Sering kita telah membangun suatu keyakinan dalam diri kita bahwa menyetir mobil, misalnya, sulit. Padahal kita belum pernah sama sekali mencoba menyetir atau baru sekali mencoba menyetir tetapi kita sudah meyakini bahwa menyetir mobil benar2 sulit. Kita tidak tahu bahwa orang2 yang bisa menyetir juga sebenarnya mereka pernah mengalami perasaan yang sama seperti kita, tetapi mereka tidak over estimate thd kemampuan  menyetir sedangkan kita over estimate. Dan hasilnya, mereka sukses sementara kita gagal.

Mencoba, mencoba dan terus mencoba adalah bukti bahwa kita tidak over estimate terhadap sesuatu, karena setelah mencoba beberapa kali itulah kita baru bisa menilai sesuatu itu memang sulit atau mudah. Kalau memang sesuatu itu sulit, setidaknya kita benar2 telah membuktikannya memang sulit, karena kita telah terus mencobanya dan tetap tidak bisa. Dan tanpa kita sadari, kegagalan yang kita dapatkan telah membuahkan pengalaman yang mungkin jauh lebih berharga dari hasilnya.

Tukul memang katrok. Banyak orang yang under estimate terhadap Tukul. Tetapi sesungguhnya, lebih banyak yang over estimate terhadap Tukul.

Ditulis dalam opini. Tag: , , , , . 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Over Estimate”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: