Semarang

Enaknya libur panjang. Seminggu full nggak ketemu pasien n nggak diganggu sama anak2 klinik yang sepertinya demen banget kalau lihat dokternya dengan ngantuk2 bangun demi pasien JPK yang batuk pilek.

“Pengabdian, Dok.. itung2 dokter lagi tugas di papua, jam segini kan dah pagi Dok disana…” nyinyir si Thole, salah satu anak klinik yang paling muda, membuat mata saya yang belum melek bener, jadi melotot. Pasien JPK jam 5 pagi… kapan ya saya bisa menguasai ilmu kesabaran level 10.

Saat ini adalah saat favorit saya, pertengahan minggu. Selama seminggu full saya bisa pergi kemana saja tanpa diganggu tetek bengek urusan pasien. 7X24 jam tanpa bunyi bel klinik dan saya bisa ngapain aja tanpa diganggu siapa pun.. Oh, nikmatnya…

Tapi, Kali ini saya memilih untuk pergi ke Semarang. Semarang adalah salah satu kota favorit saya, karena di semarang lah kedua kakak laki2 saya berdomisili. Mungkin saja saya juga akan berdomisili di Semarang nantinya, mungkin.. karena itu masih misteri buat saya.

Lucu memang ketika orang2 mulai mencari-cari persamaan kami bertiga. Mereka mulai dengan menyamakan bagian2 wajah kami yang memang tidak mirip satu sama lain. Atau lebih mirip dengan siapakah kami, dengan ibu atau bapak kami. Saya dengan kedua kakak saya, tidak hanya berbeda secara fisik, tapi anehnya pemikiran kami pun seperti segitiga Bermuda, yang satu kesini yang satunya kesana yang satunya lagi kesono. Kalau diibaratkan jika berdiskusi kami seperti tiga editorial yang berbeda, satunya editorial Koran politik, yang satu majalah agama yang satu majalah entertainment, susah kan nyambungnya. Tapi untungnya kami bertiga cukup dewasa untuk selalu tetap asik berdiskusi walaupun kadang kami mempunyai pendapat yang saling bertolak belakang.

Hari ini Mas Sis, kakak pertamaku yang Kepala Sekolah SMA, terlalu sibuk untuk sekedar duduk ngobrol bareng. Rasanya dia pantas menerima Nobel perdamaian . Sebagai Ketua RT, Mas Sis adalah ketua RT yang profesional dan berdedikasi tinggi. Hari ini, dia harus membagikan surat suara pemilihan RW yang sedang berlangsung. Cukup unik, demi kepraktisan , Ketua RT secara langsung membagikan kertas suara ke rumah2 warga.

“Pemilu yang sepi, kenapa nggak pake SMS aja sekalian, Mas, kan lebih praktis.. hehehe…” komentarku.

“ Memang sepi, tapi nanti ramenya saat perhitungan suara ,”katanya.

Praktek demokrasi mungkin memang perlu banyak modifikasi di Indonesia.

Ah… aku mau keliling2 semarang aja deh… Mungki n ada sesuatu yang baru di Semarang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: