EMPAT PENCOPET KECIL (2)

Tak jauh dari arena layar tancap, di arena komedi putar, Bagus dan Darnoto terlihat asik melihati dari jauh seorang gadis manis penjual es keliling. Gadis 11 tahun bermata bulat, berkulit sawo matang dan berambut kecoklatan karena sengatan terik matahari, telah membuat mereka lupa akan misinya datang ke tempat itu. Gadis itu sedang beristirahat sejenak setelah sedari sore berkeliling menjajakan minuman dan es dagangannya. Dia duduk di rumput beralaskan sandal jepit dan tangannya yang mungil mengaduk-aduk, menghitung isi termos es yang terlihat kebesaran untuknya. Matanya yang bulat besar nampak berbinar2 , puas dengan hasil jerih payahnya hari ini. Rambutnya unik, keriting panjang digerai bebas sampai ke punggung.

Bagus dan Darnoto baru sekitar satu minggu ini melihat gadis kecil itu. Mereka selama ini tidak terlalu memperhatikannya. Beberapa kali berpapasan tapi mereka terlalu sibuk dengan mangsanya hingga tak sempat untuk sekedar menyapa. Tapi hari ini, karena malam terasa panas membuat mereka malas untuk beraksi dan hanya melihat-lihat saja dari tadi. Mata mereka akhirnya terpaku pada gadis itu. Wajahnya yang hitam manis dan rambutnya yang indah, membuat kedua anak laki2 yang instingnya terlatih oleh kerasnya kota, baru menyadari bahwa selama ini mereka ijuga ngin berteman dengan seorang gadis.

Tiba-tiba dari arah kerumunan datang seorang laki-laki berparas seram berpakaian seperti seorang preman. Laki2 itu mendekati si gadis. Kelihatannya laki2 itu ingin membeli minuman. Bagus dan Darnoto mencium akan adanya sesuatu yang tidak beres. Benar saja, gadis itu mengambilkan 2 pocari sweat dan satu kratingdaeng lalu menyerahkannya ke laki-laki itu. Ketika semestinya membayar, laki2 itu malah ngeloyor pergi begitu saja. Si gadis seketika bangkit dan mengejar laki2 itu untuk meminta bayaran.

“Bang… kok nggak bayar?” Tanya gadis itu dengan suara sedikit gemetar.

“Kan udah tadi.. Kamu mau menipu saya ya?” bentak laki2 berparas seram itu sambil membuka salah satu tutup kaleng pocarinya.

“Belum Bang…”jawab gadis itu dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Ahh..udah udah..pergi sana jualan lagi…” sahut laki2 itu seraya terus berjalan kearah dua temannya yang menunggu di bangku taman sambil merokok Djarum Black. Temannya yang satu terlihat rapi dan sepertinya orang kaya, jelas tidak berpenampilan seperti seorang preman. Badannya sedikit gemuk dan wajahnya cukup bersih. Sesekali ia memain-mainkan handphonenya yang sepertinya mahal. Sementara temannya yang satu memakai jaket kulit hitam dan tidak begitu terlihat wajahnya karena posisi duduknya yang selalu membelakangi. Sepertinya dia juga seorang preman.

Bagus seketika bangkit ingin mengejar laki2 itu. Tapi Darnoto menahannya.

“Tenang, Gus… kita lakukan seperti biasa…” bisiknya di telinga Bagus. Bagus menggeram menahan marah, sesaat dia kembali tenang.

(to be continued…)

Ditulis dalam story. Tag: , , . 1 Comment »

Satu Tanggapan to “EMPAT PENCOPET KECIL (2)”

  1. c kusnadi Says:

    Cerita yg enak dibaca. Kutunggu lanjutannya…
    Salam kenal, pak Dokter…

    “trimakasih..dan trimakasih jg dah nyempetin mampir di blog jelek saya.. Salam kenal ya..”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: