Ujian Nasional, Sebuah Ide

Seandainya Ujian Nasional (UN) sekarang ini diputuskan untuk tidak diadakan lagi dan kembali ke sistem semula seperti sebelum diadakan UN, apa kira-kira yang akan terjadi? Menurut saya , pasti akan ada banyak pesta yang diadakan oleh anak-anak SMU dan SMP di seluruh Indonesia. Mereka mungkin juga akan merayakannya dengan mencoret-coret baju seragam walaupun belum dinyatakan lulus karena mereka yakin kalau yang menentukan kelulusan pihak sekolah pasti mereka akan lulus. Mungkin juga orang tua mereka pun akan berpesta merayakan kebebasan mereka untuk tidak perlu lagi mengkhawatirkan anak2 mereka stres gara2 tidak lulus UN atau mereka sendiri tidak perlu lagi stres karena malu kepada sejawat dan teman2nya kalau sampai anaknya tidak lulus UN.

Tapi apa yang terjadi setelah itu? Saya bisa pastikan, intensitas belajar anak2 SMU dan SMP itu akan menurun drastis. Yang semula demi lulus UN mereka rela mengurangi waktu bermain untuk pergi ke tempat les tambahan, mereka akan lebih memilih santai saja. Yang sebelumnya rela tidur larut malam untuk mengulang pelajaran yang didapatkan di sekolah atau tempat les, sekarang pasti akan lebih memilih menonton sinetron atau jalan2 bersama teman2 atau pacaran saja. Memang , tidak semuanya akan seperti ini karena banyak juga diantara mereka yang benar2 bersaing untuk mendapatkan nilai tinggi di sekolah, yang tanpa harus ada UN pun mereka akan tetap belajar dengan rajin. Namun, anak2 yang “biasa2 saja” jumlahnya jelas lebih banyak. Saya beri tanda petik karena mungkin mereka bisa berprestasi dalam hal lain. Bisa dihitung, rata2 yang dianggap pintar di satu kelas hanya sekitar 10 orang dari sekitar 50 siswa yaitu mereka yang masuk 10 besar di kelasnya dan biasanya, ya anak yang itu2 saja.

Inilah yang paling dikhawatirkan oleh orang2 yang setuju diadakannya UN. Mereka lalu mengatakan, bagaimana Negara ini akan mengejar ketertinggalannya jika generasi mudanya hanya dicekoki sinetron. Bagaimana Negara ini akan menjadi Negara yang diperhitungkan negara2 lain kalau nilai 5,5 saja tidak dapat. Mereka sepertinya menaruh seluruh masa depan Negara ini diatas pundak mahluk yang disebut UN. Yang setuju menganggap mahluk itu berwujud Hercules sementara yang tidak setuju dan juga sebagian besar anak2 sekolah mahluk itu adalah monster yang mengerikan.

Sebenarnya, apakah kita yakin bahwa sistem UN yang sekarang ini benar2 efektif untuk mencapai tujuan akhir mengejar ketertinggalan kita dengan negara2 lain. Ataukah kita hanya mendapatkan hasil semu yang sebenarnya jauh dari tujuan akhir tadi. Hal ini sangat penting untuk dievaluasi. Selama ini UN menggeneralisir semua anak harus mempunyai kemampuan yang sama dalam semua bidang pelajaran yang di-UN-kan, digeneralisir dalam semua aspek, aspek bakat dan minat, aspek sarana prasarana sekolah, aspek kualitas guru, dan bahkan aspek nasib yang semua aspek itu diluar kontrol si siswa peserta UN. Ini tentu saja melanggar asas keadilan. Dan yang paling na’if, hasil UN seolah-olah dipakai sebagai klaim bahwa sistem pendidikan berhasil jika angka kelulusan yang didasarkan pada nilai UN semakin bagus. Padahal banyak indikator lain yang mestinya harus dievaluasi untuk menyatakan bahwa sistem pendidikan bagus, seperti kualitas guru, sistem kurikulum, sarana prasarana, dan lain-lain dan kompetensi siswa adalah hanyalah salah satunya . Nilai UN hanyalah secuil faktor yang itupun hanya salah satu indikator dari banyak indikator untuk menilai kompetensi siswa. Saya membayangkannya UN hanyalah sebutir nasi dari sepiring nasi sistem pendidikan, tetapi sebutir nasi itu oleh pihak2 yang setuju diadakannya UN terlihat seperti sebakul nasi.

Tapi lantas pertanyaannya, jika tidak ada UN bagaimana membuat anak2 itu tidak hanya nonton sinetron atau jalan2 dan pacaran saja kerjaannya sementara urusan sekolah tidak serius (selama ini saya menganggap andil UN hanya sebatas ini saja). Jawaban yang ada dalam pikiran saya tidak ada lagi selain UN yang lebih efektif untuk memaksa mereka belajar dengan rajin. Tapi apakah ketidak-adilan harus dipertaruhkan hanya untuk memaksa mereka belajar dengan rajin. Dan kalau semua mau jujur, sebenarnya output dari belajar yang dipaksakan apakah benar2 ideal? Sudah bukan rahasia lagi kalau guru2 mengedril siswa2nya dengan latihan2 soal UN sebelumnya. Latihan soal menjadi titik berat, bukan lagi perluasan materi pelajaran. Latihan soal memang efektif untuk persiapan ujian tulis tapi apakah efektif untuk meningkatkan pengetahuan siswa? Tentu saja cara belajar yang demikian makin menjauhkan dari tujuan nasional kita yaitu mencerdaskan bangsa.

Sebenarnya ujian yang diadakan oleh sekolah sendiri cukup bisa memacu siswa untuk belajar. Memang tidak seefektif UN. Mungkin banyak siswa yang menyepelekan karena toh mereka akhirnya akan lulus juga. Sekolah kan butuh angka kelulusan 100% agar terlihat sebagai sekolah yang bagus dimata masyarakat dan kepala sekolah adalah orang yang paling berkepentingan dengan angka itu sebagai bahan pertanggungjawabannya kepada atasan. Nah dari sinilah dimulainya lingkaran setan UN, penilaian keberhasilan sebuah sekolah. Disinilah seharusnya rantai lingkaran setan itu diputus. Penilaian keberhasilan sekolah yang didasarkan pada angka kelulusan atau angka rata2 nilai UN adalah sebuah kesalahan. Penilaian keberhasilan sekolah harus meliputi semua aspek prestasi siswa (nilai, angka kelulusan, prestasi lomba, angka penerimaan di universitas ternama), prestasi guru (nilai kompetensi guru, prestasi guru) , sarana prasarana dan yang terutama adalah proses belajar-mengajar sehari-hari. Hasil penilaian ini harus diketahui oleh masyarakat. Ini tentu cukup untuk memacu sekolah meningkatkan kualitasnya.

Dengan kata lain, sekolah harus diakreditasi, diklasifikasikan dengan standar tertentu. Sekolah yang berkualitas diberi akreditasi A dan sekolah yang kualitasnya buruk diberi akreditasi D. Standarisasi ini dilakukan secara berkala. Standar ini diperlukan juga untuk menentukan batas nilai kelulusan siswa. Sekolah dengan akreditasi A tentu mudah untuk meluluskan siswanya dengan angka yang lebih tinggi sementara sekolah dengan akreditasi D, cukup dengan nilai yang lebih rendah, walaupun sama-sama lulus. Dengan sistem yang sekarang, dengan standar kelulusan 5,5, anak-anak yang pintar mungkin tidak cukup termotivasi karena mereka dengan mudah mencapai nilai itu. Seharusnya sekolah yang berkualitas bisa mematok nilai lebih tinggi. Tapi ini juga harus disertai sistem remidi dan penilaian prestasi harian siswa. Mungkin ada yang mengatakan, enak dong sekolah di sekolah dengan akreditasi D, tidak perlu nilai tinggi untuk lulus. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena semua universitas dan instansi2 tempat bekerja semua menggunakan standar tertentu untuk sistem perekrutannya. Dengan demikian orang pasti lebih memilih masuk ke sekolah dengan akreditasi yang bagus.

Pemerintah tidak boleh lagi mematok target angka kelulusan yang dipaksakan kepada sekolah yang akan memicu rekayasa dalam penilaian siswa. Sekolah sudah cukup termotivasi jika ada penilaian seperti diatas tadi dan sekolah tidak dapat merekayasa hasil penilaian tadi karena masyarakat bisa menilai sendiri indikator-indikatornya. Penilaian proses belajar-mengajar sehari-hari adalah yang paling penting. Mungkin selain guru menilai siswa juga siswa diberi hak yang sama untuk menilai gurunya. Siswa menilai gurunya bisa dilakukan melalui survey yang diadakan oleh sekolah sendiri atau dengan dibebaskannya siswa untuk memberikan kritikan kepada guru yang mengajarnya kurang baik. Penilaian oleh Pengawas sekolah juga harus dilakukan seobyektif mungkin.

Jangan berharap banyak jika di lapangan, di dunia yang sesuci dunia pendidikan, masih banyak terjadi rekayasa dan kebohongan. Jangan berharap ada kemajuan dalam dunia pendidikan jika praktek2 rekayasa dan pemaksaan (baca:kekerasan) masih bercokol.

Dunia pendidikan harus dikembalikan kepada makna awalnya, mendidik manusia untuk menjadi manusia seutuhnya.

9 Tanggapan to “Ujian Nasional, Sebuah Ide”

  1. Herman Says:

    Bravo, sy sangat setuju sekali dgn apa yg tlh diuraikan, itu adalah win win selution, obat yg lagi dibutuhkan bangsa yg sdg sakit ini, saya dukung, mari terus kita sebarkan buah fikiran ini

    “wah..trimakasih ya..atas dukungannya… mudah2an kalo banyak yang nyebarin bisa didenger sm pak mentri ato pak presiden ya.. amien..”

  2. kamarudin Says:

    Ya, setuju. kembali ke makna awal pendidikan, mendidik manusia untuk menjadi manusia seutuhnya.
    Menurut saya lebih efektif manusia mengukur sendiri ilmu yg didapatnya, namun ujian tetp perlu bila ia ingin ke jenjang yg lbh tinggi atau ketika ingin bekerja dgn fihak lain.
    Banyak pelajar di negeri ini bingung akan masa depannya. Untuk itu semestinya perlu diadakan semacam konsultasi karir. Lembaga ini bertujuan mengarahkan dan memberi informasi karir bagi siswa sesuai dgn bakat, minat dan kemampuannya. Dgn mengetahui tujuannya diharapkan siswa dgn kesadarannya mempelajari ilmu2 yg diperlukan utk menunjang karirnya.
    Bisa pula konsultasi ini berbentuk website, yg menyediakan segala informasi utk meraih karir tertentu.
    Apa anda berminat membangun website semacam ini?

    “setuju.. ide yang bagus… Mungkin mas kamarudin bisa memulai dengan bikin blog tentang pendidikan..nanti saya juga mau bikin deh..”

  3. acut Says:

    gak perlu ada UN…karena kunci jawabannya dah Beredar..

    “syukurlah… berarti Tuhan mendengar do’a anak-anak itu dan pastinya bakal nggak ada yang stres gara2 UN”

  4. eomer Says:

    ijin CoPas ya pak😀

    “no problem… tp jangan lupa di link ya…😀 “

  5. wijaya kusumah Says:

    UJian ansional telah membuat guru menjadi terpecah. Guru UN dan guru US. Guru UN menjadi berkanting tebal karena adanya pelajaran tambahan sedangkan guru US diam tak bergerak ketika jam belajarnya terpakai untuk penambahan materi UN. Ujian Nasional tak perlu ada bila cara yang digunakan masih cara–cara lama. Sudah saatnya sistem seperti ini terus dievaluasi agar kebermanfaatan UN terasa untuk semua.

    Anda bisa melihat tulisan saya di : http://wijayalabs.blogdetik.com/2009/04/03/menggugat-ujian-nasional-1/

    Salam blogger
    omjay

    “wah mudah2an nggak sampai berantem aja ya dua blok guru itu… kalo sampai terjadi, sudah kiamat dunia pendidikan kita”

  6. Heru Wijayanto Says:

    saya sangat setuju dengan pendapatnya…
    Memang pendidikan Indonesia harus dikembalikan sesuai dengan kultur dan budaya Indonesia itu sendiri…

    Saya sangat mendukung sekali jika ada web atau blog yang khusus membahas tentang pendidikan.. Ide yang menarik…

    Maju terus pendidikan Indonesia…

    http://siheyu.net

    “Trima kasih… menambah semangat saya untuk terus ngeblog”

  7. torik Says:

    saya selalu dukung ide2 seperti ini…

    “trima kasih dukungannya… salam kenal”

  8. Adli Says:

    Saya setuju dengan ide yang lebih nalar ini. Keberhasilan sekolah harusnya dinilai dengan seberapa banyak sekolah dapat merubah anak “tidak baik” menjadi “baik”. Akreditasi harusnya juga memasukkan unsur ini….jangan sampai anak bermasalah dikeluarkan dari sekolah, padahal sekolah adalah bagian dari pendidikan untuk merubah agar dia “tidak bermasalah”.

    “setuju banget.. guru seharusnya mempunyai kemampuan itu. Guru yang hebat adalah guru yang mampu membaikkan yang jelek dari murid2nya”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: