EMPAT PENCOPET KECIL (5)

Tak pernah terpikirkan oleh keempat anak jalanan itu bahwa mereka akan mengalami peristiwa spektakuler nantinya. Mereka hanya tahu bahwa jika mereka tidak berhasil mendapatkan mangsa, mereka lah yang akan dimangsa oleh kerasnya kota. Mereka hidup hanya mengikuti kemana angin membawa. Tak ada rencana yang muluk2 untuk 5 atau 10 tahun ke depan. Bagi mereka hidup begitu mudah asal segera lari jika ada masalah dan hidup menjadi menarik jika bisa kemana saja yang mereka suka. Mereka tak lagi sempat meratapi masa lalu. Masa lalu telah terkubur dan yang penting adalah hari ini. Seandainya mereka tak pernah mengalami kehidupan jalanan, mungkin mereka akan lebih disibukkan memikirkan hari esok. Tapi kerasnya jalanan memaksa mereka untuk tidak pernah bisa merencanakan besok akan bagaimana. Bagi mereka memang percuma saja melakukannya dan lagi buat apa, toh tak seorang pun menuntut mereka untuk itu. Seperti malam ini, mereka hanya menunggu esok di markas kardus.

“Gila bagus banget sih nih Handphone? Berapa ya, harganya?” Andre berbicara hampir seperti menggumam sambil terus asik memencet2 tombol blackbery itu, memainkan sebuah permainan yang ada di dalamnya. Badannya yang paling mungil di antara ketiga temannya terlentang diatas tikar.

“7 juta…” jawab Darnoto yang duduk beralas koran sambil terus sibuk menggambar atau lebih tepatnya mencoret2 di sebuah kertas dengan sebuah pensil. Bagus duduk di sudut dan asik dengan gitarnya, mengalunkan dengan lirih sebuah lagu ngebit milik Lady Gaga.. ‘Poker Face’, lagu yang enerjik tp dinyanyikan dengan malas olehnya. Sementara Juki duduk di pintu sambil mengisap sebatang Gudang Garam filter dan menatap keluar ke arah sungai. Matanya sebentar2 terpejam karena kantuk.

“Wah.. bisa kaya dong kita kalau sering2 dapet yang beginian..” kata Andre.

“Pasti .. ! Dan pasti kita akan menikmati kekayaan itu segera setelah kita keluar dari penjara..” sahut Juki , sementara matanya terus terpejam seperti sedang tidur.

Bagus yang dari tadi asik dengan gitarnya, tiba2 menjatuhkannya dan bangkit berjalan keluar, melangkahi Juki dan membuatnya tersentak dari kantuknya. Ketiga bocah itu terkejut dengan tingkah aneh Bagus. Mereka melihat kecemasan di raut muka Bagus . Juki bangkit mau menyusul Bagus yang terus berjalan cepat menyusuri tepi sungai menuju ke arah kota tapi Darnoto bangkit mencegahnya.

“ Sudahlah.. Dia hanya belum bisa melupakan kejadian saat di penjara waktu itu. Kamu membuat ingatan itu terlintas kembali ” Darnoto berkata dengan sedikit berbisik di telinga Juki.

“Sory.. tapi bukan maksudku…”

“Juk.. sudahlah.. Bagus akan baik-baik saja…”Darnoto merangkul Juki dan mengajaknya kembali masuk ke markas.

Penjara adalah tempat yang gelap dan disanalah kegelapan bersarang..

(to be continued…)

Satu Tanggapan to “EMPAT PENCOPET KECIL (5)”

  1. cyperus Says:

    hahaha.. mungkin dia akan sibuk mikir postingan kalo g di jalanan..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: