Empat Pencopet Kecil (6)

Bagus berjalan tertunduk menyusuri gang sempit menuju kota. Kepalanya berdenyut2 serasa ada jantung di dalamnya. Sesekali ia menarik nafas panjang berusaha melapangkan dadanya yang terasa penuh. Ia sudah sedikit lebih baik meskipun ingatan akan penjara masih berseliweran. Setiap kali ingatan itu muncul di hadapannya, keringat kembali deras mengucur. Ia hampir putus asa dengan kondisinya, tapi ia berusaha keras untuk mengatasinya, meskipun tak ada tanda2 ingatan itu akan lenyap dari kepalanya.

Siapa yang pernah menginginkan di saat hari  ulang tahunnya seseorang menghadiahkan sebuah bogem mentah tepat di hidungnya.  Di saat seharusnya sebuah kue ulang tahun dengan lilin diatasnya dihadapkan oleh kedua orang tua dan teman2nya, Bagus harus meringkuk di sudut penjara bersama beberapa ekor kecoa. Hidung dan mata kirinya lebam kebiruan, karena dihajar polisi saat diinterogasi. Baju tahanan yang dipakainya basah karena diguyur oleh petugas. Sesekali tubuhnya yang meringkuk menahan dingin, bergetar menggigil.

“Hi anak manis… ”

Sebuah suara cempreng  mengejutkannya. ia berpaling ke arah suara itu. Di depan terali tampak 2 orang petugas penjara. Seorang berbadan kurus yang seorang berbadan agak tambun. Muka mereka tidak terlihat jelas dari arahnya karena lampu sel sudah dimatikan. Jam dinding menunjukkan waktu jam 1 malam.

Petugas yang berbadan kurus membuka gembok. Tak seberapa lama kedua orang itu telah berada di dalam sel tepat di hadapan Bagus.  Bagus sesaat merasa lega, mungkin ia akan segera dilepaskan. Tapi seketika perasaan lega itu lenyap  stlh terpikir olehnya kenapa mesti malam2 seperti ini melepaskan dirinya. Muka petugas yang berbadan kurus cukup aneh. Saat menyeringai, mukanya yang terlihat tua dari seharusnya, tidak simetris, miring ke arah kanan, hiingga mata kanannya terlihat lebih kecil dari yang kiri. Sementara petugas yang sedikit tambun bermuka bulat,  berhidung pesek dan tersenyum-senyum aneh.

“mimpi apa anak manis..? apa kamu mau berbagi makanan dalam mimpimu.. hehehhe…  ayo cepet bangun! Ikut kami!” kata petugas berbadan tambun sambil menyepakkan kakinya di pantat Bagus.

Bagus  segera bangkit. Ia tak ingin ada bekas tapak sepatu di mukanya. Sebentar ia membenarkan bajunya yang kusut dan masih agak basah. Petugas yang berbadan kurus mendorongnya keluar. Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong penjara kearah tangga. Suara ketukan sepatu kedua petugas itu bergema dan menimbulkan rasa sunyi. Mereka tidak saling bicara. Bagus bertanya-tanya dalam hati, ada apa sebenarnya? Kenapa malam2 sepertiini ia harus dibangunkan? Apakah ia akan kembali di interogasi karena siang tadi petugas belum bisa memaksa dia mengakui apa yang tidak dilakukannya, mencuri uang si tukang daging di pasar.

Mereka  menaiki tangga dan terus melanjutkan ke lantai dua. Lantai satu terlihat lebih lapang dan lengang, tapi gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela kaca. Sepertinya banyak ruang2 kantor. Akhirnya mereka sampai di lantai dua.

“jangan macem2 ya..  bapak komandan ingin bicara dengan kamu. Jaga sopan santun!”

(to be continued..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: