Diabetes Mellitus

Apakah Diabetes Mellitus itu?

Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (glukosa) yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya. Diabetes Mellitus biasa disebut dengan diabetes saja dan merupakan penyakit yang diasosiasikan dengan “kencing manis” dan kehilangan otot yang drastis pada zaman dulu. Peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) menyebabkan meluapnya glukosa ke dalam urin, sehingga timbul istilah kencing manis.

Dalam kondisi normal, kadar glukosa darah dikontrol secara ketat oleh insulin, sejenis hormon yang dihasilkan oleh pankreas. Insulin menurunkan kadar glukosa dara. Ketika kadar gula darah naik (misalnya setelah makan) insulin dikeluarkan dari pankreas untuk menurunkan kadar gula darah. Pada pasien dengan diabetes, ketiaadaan atau kekurangan insulin menyebabkan hiperglikemia. Diabetes merupakan kondisi medis yang kronis, artinya meskipun bisa dikontrol tapi akan menetap seumur hidup.

Apa Akibat Diabetes Mellitus?

Semakin lama, diabetes dapat menyebabkan kebutaan, gagal ginjal dan kerusakan saraf. Tipe2 gangguan ini disebabkan karena kerusakan pembuluh2 darah kecil disebut juga penyakit mikrovaskuler. Diabetes juga merupakan faktor penting dalam mempercepat pengerasan dan penyempitan pembuluh darah arteri (atherosclerosis) menyebabkan strokes, penyakit jantung koroner, dan penyakit pembuluh darah besar lainnya. Gangguan ini disebut juga penyakit makrovaskuler. Diabetes sekarang ini diderita oleh sekitar 17 juta orang di US (sekitar 8% dari populasi). Diperkirakan ada 12 juta orang lagi di US yang menderita diabetes tetapi tidak mengetahuinya.

Dari perspektif ekonomi, biaya total setahun selama tahun 1997 di USA diperkirakan 98 milyar dolar. Biaya perkapita akibat diabetes pada tahun 1997 sebesar $ 10,071.00. Selama tahun yang sama, 13,9 juta hari rawat inap di rumah sakit dipakai untuk diabetes, sementara 30,3 juta kunjungan dokter dikaitkan dengan diabetes. Ingat, angka2 ini hanya  di US. Secara global, statistiknya akan mencengangkan.

Diabetes merupakan penyebab kematian ketiga di USA setelah penyakit jantung dan kanker.

Apakah Penyebab Diabetes Mellitus?

Kekurangan produksi insulin (baik absolut maupun relatif terhadap kebutuhan tubuh), produksi insulin rusak (ini jarang), atau ketidakmampuan sel untuk menggunakan insulin dengan baik dan efisien merupakan penyebab hiperglikemia dan diabetes. Kondisi yang terakhir tadi mengenai kebanyakan sel jaringan otot dan lemak dan menyebabkan kondisi yang disebut dengan resistensi insulin. Ini merupakan problem utama pada diabetes tipe 2. Kekurangan insulin yang absolut, biasanya sekunder terhadap proses perusakan sel beta (sel penghasil insulin) dalam pankreas, merupakan gangguan utama pada diabetes tipe 1. Pada diabetes tipe 2 juga terjadi penurunan yang menetap jumlah sel beta sehingga menambah proses peningkatan gula darah. Pada intinya, jika seseorang resisten thd insulin, tubuhnya dapat, pada beberapa level, meningkatkan produksi insulin dan mengatasi resistensi. Setelah beberapa lama, saat produksi menurun dan insulin tidak dapat dikeluarkan dengan baik, maka hiperglikemia pun mulai timbul.

Glukosa adalah gula sederhana yang ditemukan dalam makanan. Glukosa merupakan nutrisi penting yang menyediakan energi  sel tubuh agar berfungsi dengan baik. Karbohidrat dicerna dalam usus kecil dan glukosa dalam makanan yang telah tercerna akan diserap oleh sel2 usus dan masuk ke dalam aliran darah dan kemudian dibawa oleh aliran darah ke seluruh sel tubuh, dimana glukosa digunakan. Namun, glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel sendirian dan memerlukan bantuan insulin untuk memasuki sel. Tanpa insulin sel menjadi kelaparan terhadap energi glukosa, sementara terjadi penumpukan glukosa dalam aliran darah. Pada suatu tipe tertentu diabetes, sel yang tidak mampu menggunakan glukosa menyebabkan situasi kronis “kelaparan di tengah2 kelimpahan”. Kelimpahan glukosa yang tidak terpakai ini akan dibuang melalui urin.

Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh sel khusus (sel beta) dari pankreas (pankreas adalah sebuah organ yang terletak di bagian dalam abdomen). Selain membantu glukosa memasuki sel, insulin juga penting dalam pengaturan ketat kadar gula darah. Setelah makan, glukosa darah akan meningkat. Dalam merespon peningkatan kadar gula dalam darah, normalnya, pankreas akan mengeluarkan insulin lebih banyak ke dalam aliran darah untuk membantu glukosa memasuki sel dan menurunkan kadar gula darah setelah makan. Ketika kadar gula darah rendah, pengeluaran insulin oleh pankreas dikurangi. Penting untuk dicatat bahwa meskipun dalam keadaan puasa terdapat pengeluaran insulin secara terus-menerus dalam jumlah kecil dan sedikit berfluktuasi untuk menjaga kadar gula tetap stabil selama berpuasa. Pada individu normal, sistem pengaturan tersebut membantu menjaga kadar gula darahtetap di dalam range yang terkontrol secara ketat. Sebagaimana dijelaskan diatas, pada pasien dengan diabetes terjadi insulin bisa tidak ada, secara relatif kurang terhadap kebutuhan tubuh, atau tidak bisa digunakan dengan baik oleh tubuh. Semua faktor2 ini dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia)

Apakah Perbedaan Dua Tipe Diabetes?

Ada dua tipe utama Diabetes, disebut tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 disebut juga Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau Juvenile Onset Diabetes Mellitus (dimulai sejak anak-anak). Pada DM tipe 1 pankreas mengalami serangan autoimun oleh tubuhnya sendiri dan ini menyebabkannya tidak mampu memproduksi insulin. Antibodi yang abnormal ditemukan pada mayoritas penderita DM tipe 1. Antibodi adalh protein dalam darah yang merupakan bagian dari system imun. Pasien dengan DM tipe 1 harus menyandarkan diri pada pengobatan dgn insulin untuk bertahan hidup.

Pada penyakit autoimun , seperti pada Diabetes tipe 1, system imun salah dalam memproduksi antibody dan sel2 radang yang secara langsung menyerang dan menyebabkan kerusakan jaringan tubuh si pasien sendiri. Pada orang dengan DM tipe 1, sel beta pancreas yang bertanggung jawab dalam menghasilkan insulin, diserang oleh imun system yang salah arah. Diyakini bahwa kecenderungan terbentuknya antibody abnormal pada DM tipe 1 diturunkan secara genetik, meskipun secara rinci tidak betul2 diketahui.

Terinfeksi oleh virus tertentu (seperti mumps dan coxsackie viruses) atau racun2 lain dapat menyebabkan respon antibody abnormal yang dapat menyebabkan kerusakan sel pankreas yang merupakan penghasil insulin. Beberapa antibodi tampak pada diabetes tipe 1 termasuk antibody anti-islet sel, antibody anti-insulin, dan antibody anti-glutamic decarboxylase. Antibodi2 ini dapat diukur pada kebanyakan pasien dan dapat membantu menentukan individu yg mana yg beresiko mengalami diabetes tipe 1.

Saat ini, Asosiasi Diabetes Amerika tidak merekomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan screening pada populasi utk DM tipe 1. Meskipun begitu, dianjurkan screening untuk individu resiko tinggi seperti mereka yang dengan diabetes tipe 1 relatif tingkat satu (saudara kandung atau orang tua). DM tipe 1 cenderung terjadi pada saat masih muda, tergantung individunya biasanya terjadi sebelum usia 30, namun pasien yang lebih tua dapat mengalaminya kadang2. Sub grup ini mengacu pada Latent Autoimunt Diabetes in Adult (LADA). LADA adalh bentuk yang progresif tapi pelan dari DM tipe 1. Dari semua pasien yang menderita diabetes, hanya sekitar 10% pasien mengalami DM tipe 1, sisanya 90% adalah DM tipe 2.

Diabetes tipe 2 juga disebut Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau Adult Onset Diabetes Mellitus (AODM). Pada DM tipe 2 pasien masih bisa menghasilkan insulin, tetapi bekerja tidak cukup adekuat terhadap kebutuhan tubuh, terutama saat menghadapi resistensi insulin sebagaimana didiskusikan diatas. Pada banyak kasus, pancreas menghasilkan insulin lebih banyak daripada normal. Gambaran utama dari DM tipe 2 adalah berkurangnya sensitifitas thd insulin pada sel2 tubuh (terutama sel lemak dan sel otot).

Disamping masalah peningkatan resistensi terhadap insulin, pengeluaran insulin oleh pancreas bisa juga mengalami gangguan dan tidak cukup optimal. Faktanya, terdapat juga penurunan yang menetap sel beta pancreas dalam memproduksi insulin yang makin memperburuk kontrol glukosa (ini adalah masalah utama pada pasien DM tipe 2 yang akhirnya membutuhkan terapi insulin). Akhirnya, liver pada pasien2 ini terus memproduksi glukosa melalui proses yang disebut glukoneogenesis walaupun ada peningkatan kadar glukosa. Kontrol terhadap glukoneogenesis menjadi berkurang.

Meskipun DM tipe 2 dikatakan muncul ketika usia diatas 30 tahun dan angka kejadian meningkat bersama meningkatnya umur, tetapi terdapat sinyal adanya sejumlah pasien dg DM tipe 2 yang terjadi pada usia belasan. Kenyataannya pertama kalinya pada sejarah manusia, DM tipe 2 sekarang llebih banyak dari pada DM tipe 1 pada anak2. Kebanyakan kasus ini merupakan akibat langsung dari pola makan yang buruk, berat badan yang berlebihan dan kurangnya olahraga.

Walaupun ada komponen genetik yang kuat untuk mengembangkan bentuk diabetes ini, ada faktor risiko lainnya – yang paling penting, yaitu kegemukan. Ada hubungan langsung antara derajat kegemukan dan risiko pengembangan diabetes tipe 2, dan pendapat ini benar pada anak-anak maupun orang dewasa. Hal ini diperkirakan kesempatan untuk mengembangkan diabetes dua kali lipat untuk setiap 20% kenaikan berat badan melebihi berat badan yang diharapkan.

Tentang usia, data menunjukkan bahwa untuk setiap dekade setelah usia 40 tahun berapapun berat badannya, ada peningkatan pada insidensi diabetes. Prevalensi diabetes pada orang 65-74 tahun hampir 20%. Diabetes tipe 2 juga lebih sering pada kelompok etnis tertentu. Dibandingkan dengan 6% prevalensi pada Caucasians, prevalensi di Asia dan Afrika Amerika Amerika sekitar 10%, pada Hispanics 15%, dan pada komunitas Native American 20% hingga 50%. Akhirnya, diabetes jauh lebih sering terjadi pada wanita dengan riwayat sebelumnya mengalami diabetes selama kehamilan (gestational diabetes – lihat di bawah).

Diabetes dapat terjadi sementara selama kehamilan. Perubahan hormonal yang signifikan selama kehamilan dapat mengakibatkan peningkatan gula darah pada individu dengan predisposisi genetic . Tingginya gula darah selama kehamilan disebut gestational diabetes. Gestational diabetes biasanya hilang setelah bayi lahir. Namun, 25% -50% perempuan dengan gestational diabetes akhirnya akan mengembangkan diabetes tipe 2 nantinya dalam hidup, khususnya orang-orang yang memerlukan insulin selama kehamilan dan orang-orang yang tetap kegemukan setelah melahirkan. Pasien dengan diabetes gestational biasanya diminta untuk menjalani suatu tes toleransi glukosa oral sekitar enam minggu setelah melahirkan untuk menentukan apakah mereka telah mengalami diabetes yang menetap di luar kehamilan, atau jika ada bukti (seperti impaired glucose tolerance), mungkin petunjuk bagi pasien bahwa di masa depan berisiko untuk mengembangkan diabetes.

Diabetes “sekunder” merujuk pada tingginya tingkat gula darah akibat dari kondisi medis lain. Sekunder diabetes dapat terjadi bila jaringan pancreas yang bertanggung jawab atas produksi insulin dihancurkan oleh suatu penyakit, seperti Pancreatitis kronis (peradangan pada pankreas oleh toxins seperti alkohol berlebihan), trauma, atau operasi pemindahan dari pankreas.

Diabetes juga dapat diakibatkan oleh gangguan hormonal lainnya, seperti produksi hormon pertumbuhan yang berlebihan (acromegaly) dan Cushing’s syndrome. Pada acromegaly, sebuah tumor kelenjar pituitary di bawah otak menyebabkan produksi hormon pertumbuhan yang berlebihan, menyebabkan hyperglycemia. Pada Cushing’s syndrome, kelenjar adrenal menghasilkan cortisol yang berlebihan, sehingga meningkatkan gula darah.

Selain itu, obat tertentu dapat memperburuk control diabetes, atau membangkitkan latent diabetes. Hal ini paling sering terlihat pada pemakaian obat steroid (seperti Prednisone) dan juga obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan infeksi HIV (AIDS).

Apa saja gejala diabetes?

  • Gejala awal diabetes yang tidak diterapi terkait dengan tingkat gula darah tinggi, dan kehilangan glukosa dalam air kencing. Tingginya jumlah glukosa dalam air kencing dapat menyebabkan peningkatan keluaran urine dan menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi menyebabkan peningkatan konsumsi air dan kehausan.
  • Ketidakmampuan insulin untuk bekerja seperti biasanya memiliki efek pada protein, lemak dan metabolisme karbohidrat. Insulin merupakan hormon anabolic, yaitu suatu hormon yang mendorong penyimpanan lemak dan protein.
  • Kekurangan insulin relatif atau absolut akhirnya mengarah ke kehilangan berat badan walaupun terjadi peningkatan nafsu makan.
  • Beberapa pasien diabetes yang tidak diterapi juga mengeluh kelelahan, mual dan muntah-muntah.
  • Pasien dengan diabetes rentan terhadap infeksi yang berkembang dari kandung kencing, kulit, dan vaginal area.
  • Fluktuasi tingkat gula darah dapat mengakibatkan penglihatan kabur. Glukosa yang sangat tinggi dapat mengakibatkan kelesuan dan koma.

Bagaimana diabetes didiagnosis?

Tes Glukosa darah puasa (gula) adalah cara yang disukai untuk mendiagnosa diabetes. Mudah dan nyaman untuk melakukannya. Setelah pasien tersebut berpuasa semalam (minimal 8 jam), suatu sampel darah diambil dan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Ini juga dapat dilakukan secara akurat di kantor dokter menggunakan glucose meter.

  • Tingkat glukosa plasma puasa normal adalah kurang dari 100 milligrams per deciliter (mg / dl).
  • tingkat glukosa plasma puasa lebih dari 126 mg / dl pada dua atau lebih tes pada hari yang berbeda menunjukkan diabetes.
  • Tes glucose darah sewaktu juga dapat digunakan untuk mendiagnosa diabetes. tingkat gula darah dari 200 mg / dl atau lebih tinggi menunjukkan diabetes.

Bila gula darah puasa tetap diatas 100mg/dl, namun dalam range 100-126mg/dl, hal ini dikenal sebagai impaired fasting glucose (IFG). Pasien dengan IFG tidak didiagnosa kencing manis,

Tes Toleransi Glukosa Oral

Walaupun tidak secara rutin digunakan lagi, oral glukosa toleransi test (OGTT) adalah standar utama untuk membuat diagnosis diabetes tipe 2. Hal ini masih sering digunakan untuk mendiagnosis diabetes dalam kehamilan dan dalam kondisi pra-diabetes, seperti sindrom indung telur polycystic. Dengan uji toleransi glukosa oral, pasien puasa semalam (sedikitnya delapan jam tetapi tidak lebih dari 16 jam). Kemudian pertama2, gula plasma puasa dites. Setelah tes ini, pasien diberi 75 gram gula (100 gram untuk wanita hamil). Ada beberapa metode yang digunakan oleh obstetricians untuk melakukan tes ini, tetapi yang dijelaskan di sini adalah standar. Biasanya, gula dalam bentuk cairan manis untuk diminum. Sampel darah diambil pada interval tertentu untuk mengukur glukosa darah.

Untuk memberikan hasil tes yang handal:

  • Orang tsb harus berada dalam kesehatan yang baik (tidak mempunyai penyakit lainnya, bahkan tidak sedang flu).
  • Orang tsb biasanya harus aktif (tidak dalm keadaan tirah baring, misalnya, Rawat Inap di rumah sakit), dan
  • Orang tsb tidak boleh menggunakan obat-obatan yang dapat mempengaruhi gula darah.
  • Selama tiga hari sebelum tes, orang tsb harus makan makanan yang tinggi karbohidrat (200-300 gram per hari).
  • Pada pagi saat tes, orang tsb seharusnya tidak merokok atau minum kopi.

Tes toleransi glukosa oral klasik mengukur tingkat gula darah lima kali selama periode tiga jam. Dokter dgn mudah mengambil satu sampel darah diikuti oleh satu sampel darah lagi dua jam setelah minum larutan glukosa . Pada orang tanpa diabetes, maka tingkat gula meningkat dan kemudian turun dengan cepat. Pada seseorang dengan diabetes, glukosa meningkat lebih tinggi dari tingkat normal dan tidak kembali lagi ke bawah dengan cepat.

Orang dengan tingkat glukosa antara normal dan diabetes mempunyai impaired glucose tolerance (IGT). Orang dengan IGT tidak didiagnosa diabetes, tetapi menghadapi risiko tinggi untuk menjadi diabetes. Setiap tahun, 1% -5% orang yang memiliki hasil tes menunjukkan IGT akhirnya menjadi diabetes. Penurunan Berat badan dan latihan dapat membantu orang dengan IGT memperbaiki glukosa mereka kembali ke tingkat normal. Selain itu, beberapa dokter menganjurkan penggunaan obat, seperti metformin (Glucophage), untuk membantu mencegah / menunda mulainya diabetes.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa memburuknya glukosa toleransi itu sendiri mungkin merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung. Dalam dunia Medis, sebagian besar dokter sekarang mengerti bahwa IGT tidak semata-mata adalah pencetus dari diabetes, tetapi merupakan entitas klinis penyakit tersendiriyang memerlukan perawatan dan pemantauan.

Mengevaluasi hasil tes toleransi glukosa oral

Glucose toleransi tes dapat mengakibatkan salah satu diagnosa berikut:

  • Respon Normal: Seseorang dikatakan mempunyai respon normal bila kadar gula 2 jam kurang dari 140 mg / dl, dan semua hasil antara 0 dan 2 jam kurang dari 200 mg / dl.
  • Impaired Glucose Toleransi: Seseorang dikatakan IGT bila glukosa plasma puasa kurang dari 126 mg / dl dan kadar gula 2 jam antara 140 dan 199 mg / dl.
  • Diabetes: Seorang mempunyai diagnostik diabetes bila 2 tes dilakukan pada hari yang berbeda menunjukkan tingkat gula darah tinggi.
  • Gestational diabetes: Seorang perempuan didiagnosa gestational diabetes bila dia mempunyai dua dari hal-hal berikut: 100g OGTT, glukosa plasma puasa yang lebih dari 95 mg / dl, kadar glukosa 1 jam lebih dari 180 mg / dl, kadar glukosa 2 jam lebih dari 155 mg / dl, atau kadar glukosa 3 jam lebih dari 140 mg / dl.

Mengapa gula darah dicek di rumah?

Test glukosa darah di rumah merupakan bagian penting dalam pengontrolan gula darah. Salah satu tujuan penting perawatan diabetes adalah mempertahankan kadar gula darah dekat dengan range normal 70-120 mg/dl sebelum makan dan dibawah 140 mg/dl setelah makan. Kadar gula darah biasanya ditest sebelum dan sesudah makan, dan pada waktu akan tidur. Kadar gula darah dapat diketahui dengan menusukkan jarum pada ujung jari dan darah yang keluar ditempelkan di glukosa meter, yang akan membaca hasilnya. Ada banyak alat ini di pasaran, seperti Accu-Check Advantage, One Touch Ultra, Sure Step and Freestyle. Masing2 alat mempunyai kelebihan dan kekurangan masing2 (beberapa menggunakan sedikit darah, beberapa ada yang hasil bacanya lebih besar, beberapa hanya perlu sebentar untuk memberikan hasil, dll) Hasil test kemudian dapat digunakan untuk membantu pasien membuat penyesuaian dalam pengobatan, diet dan aktivitas fisik.

Terdapat beberapa perkembangan menarik dalam monitoring glukosa darah. Sekarang ini, setidaknya ada tiga sensor glukosa berkelanjutan yang disetujui di US (Dexcom, Medtronic dan Navigator). Sistem sensor glukosa berkelanjutan baru mempunyai sebuah kanula implant yang ditempatkan dibawah kulit di perut atau di lengan. Kanula ini memasukkan sample secara berkala untuk mengukur kadar gula darah. Sebuah transmitter dihubungkan ke implant dan akan mengirimkan data ke sebuah alat seperti pager. Alat ini mempunyai layar yang bisa memperlihatkan tidak hanya kadar glukosa terkini, tetapi juga kecenderungan grafik. Pada beberapa alat, angka perubahan dari kadar gula juga ditampilkan. Terdapat alarm untuk kadar gula rendah dan tinggi. Model tertentu akan berbunyi jika angka perubahan menunjukkan pemakainya dalam resiko penurunan atau kenaikan glukosa darah yang terlalu cepat. Versi Medtronic secara khusus didisain dengan dihubungkan dengan pompa insulin. Namun, pada saat ini pasien masih harus secara manual menerima sejumlah dosis insulin. Semua alat2 ini perlu dihubungkan dengan fingerstick (suatu prosedur dimana ujung jari ditusuk dengan jarum untuk mengeluarkan sedikit darah kapiler untuk ditest) untuk beberapa jam sebelum dapat berfungsi sendiri. Alat ini dapat membaca hasil selama 3-5 hari.

Ahli2 diabetes merasa bahwa alat2 monitoring glukosa darah ini memberi pasien cukup kebebasan untuk mengatur proses penyakitnya, dan merupakan alat yang bisa memberikan edukasi juga kepada pasien. Penting juga untuk diingat bahwa alat ini dapat digunakan secara terus menerus dengan fingerstick . Sebagai contoh, pasien yang terkontrol dengan baik dapat mengandalkan cek glukosa dengan fingerstick beberapa kali dalam sehari. Jika mereka menjadi sakit, jika mereka memutuskan untuk memulai suatu jenis latihan baru, jika mereka mengubah pola diet, dsb, mereka dapat menggunakan sensor untuk menggantikan fingerstick., menyediakan informasi lebih banyak bagaimana mereka merespon perubahan gaya hidup baru atau stressor. Sistem ini membawa kita satu langkah lebih dekat dengan siklus tertutup, dan pada pengembangan pancreas buatan yang bisa mengetahui kebutuhan insulin berdasarkan kadar glukosa dan kebutuhan tubuh dan pengeluaran insulin sesuai tujuan yang paling utama.

Apakah komplikasi akut diabetes?

1. Kadar gula darah yang sangat tinggi disebabkan karena kekurangan nyata insulin atau kekurangan insulin secara relative.
2. Kadar gula darah yang terlalu rendah disebabkan karena insulin yang terlalu banyak atau obat penurun glukosa darah lainnya.

Insulin sangat vital untuk pasien dengan DM tipe 1, mereka tidak bisa hidup tanpa insulin dari luar. Tanpa insulin, pasien dengan DM tipe 1 menjadi memiliki kadar gula darah yang sangat tinggi. Hal ini akan meningkatkan glukosa urin, akan menyebabkan kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui urin. Kekurangan insulin juga menyebabkan ketidakmampuan untuk menyimpan lemak dan protein bersamaan dengan penguraian lemak dan protein tubuh. Gangguan pengaturan ini menyebabkan proses ketosis dan pelepasan keton kedalam darah. Keton menyebabkan darah menjadi asam, kondisi ini disebut diabetic ketoacidosis (DKA). Gejala DKA adalah mual, muntah, dan nyeri perut. Tanpa penatalaksanaan yang tepat pada waktunya, pasien dengan DKA dapat dengan cepat menjadi shock, koma bahkan meninggal.

DKA dapat disebabkan oleh infeksi, stress, atau trauma yang kesemuanya menyebabkan peningkatan kebutuhan insulin. Disamping itu, kekurangan dosis insulin juga merupakan resiko untuk timbulnya DKA. Terapi segera untuk DKA meliputi pemberian cairan intravena, elektrolit dan insulin yang biasanya tersedia di intensive care RS. Dehidrasi bisa sangat berat, dan terkadang memerlukan penggantian 6-7 liter cairan jika seseorang mengalami DKA. Antibiotik diberikan untuk infeksi. Dengan terapi, kadar gula darah yang abnormal, produksi keton, asidosis dan dehidrasi dapat dinormalkan kembali dengan cepat, dan pasien bisa membaik dengan cepat.

Pada pasien dengan diabetes tipe 2, stress, infeksi, dan pengobatan (misalnya kortikosteroid) dapat juga menyebabkan peningkatan berat kadar glukosa darah. Bersama dengan dehidrasi, peningkatan glukosa darah yang berat pada pasien DM tipe 2 dapat menyebabkan peningkatan osmolalitas darah ( kondisi hiperosmolar) Kondisi ini dapat menyebabkan koma (koma hiperosmolar). Koma hiperosmolar biasanya terjadi pada pasien yang berusia lanjut dg DM tipe 2. Seperti DKA, koma hiperosmolar juga termasuk kedaruratan medic. Terapi segera dengan cairan intravena dan insulin penting untuk melawan keadaan hiperosmolar. Tidak seperti pasien DM tipe 1, pasien dengan DM tipe 2 tidak selalu mengalami ketoasidosis semata2 karena diabetesnya. Pada umumnya, DM tipe 2 terjadi pada populasi usia lanjut, kondisi medis lain yang terjadi bersamaan lebih sering ada, dan pasien ini akan lebih sakit secara keseluruhan. Komplikasi dan angka kematian dari koma hiperosmolar lebih tinggi daripada DKA

Hipoglikemi adalah gula darah yang abnormal rendah. Pada pasien dengan DM, penyebab paling banyak dari hipoglikemi adalah pemakaian insulin yang terlalu banyak atau obat2 penurun gula darah lainnya, untuk menurunkan gula darah pada pasien DM yang menunda atau sama sekali tidak makan. Ketika Gula darah rendah terjadi karena insulin yang terlalu banyak, ini disebut degan reaksi insulin. Kadang2, gulah darah yang rendah dapat disebabkan oleh kekurangan asupan kalori atau pengeluaran tenaga berlebihan secara mendadak dalam latihan fisik.

Gula darah penting untuk fungsi normal sel2 otak. Karena itu, gula darah yang rendah dapat menyebabkan gejala system saraf pusat, seperti:

  • Sakit kepala
  • bingung
  • kelemahan
  • tremor

Kadar gula dimana terjadi gejala2 tersebut berbeda2 pada tiap orang, tetapi biasanya terjadi jika gula darah kurang dari 65 mg/dl. Kadar gula darah rendah yang berat yang tidak diterapi dapat menyebabkan koma, seizure, dan pd scenario terburuk, kematian otak ireversibel. Pada poin ini, otak menderita kekurangan gula dan ini biasa terjadi pada sekitar level 40 mg/dl

Terapi gula darah rendah terdiri dari pemberian sumber glukosa yang dapat terserap dengan cepat. Ini termasuk minuman seperti jus jeruk, soft drink (bukan yang bebas gula) atau tablet glukosa dg dosis 15-20 gram sekaligus (sama dengan setengah gelas jus jeruk). Meskipun kue beku dapat ditaruh dibalik pipi dapat bermanfaat pada keadaan memaksa, jika pasien kooperatif ini sulit. Jika pasien menjadi tidak sadar, glucagon dapat diberikan secara injeksi intramuskuler.

Glucagon menyebabkan pelepasan glukosa dari hati. Glucagon dapat menyelamatkan hidup dan semua pasien dengan DM dengan riwayat mengalami hipoglikemia (terutama yang memakai insulin) seharusnya mempunyai glucagon kit. Keluarga dan teman orang dengan DM perlu diajari bagaimana cara memberikan glucagon, karena pasien tidak akan bisa melakukannya sendiri pada situasi emergensi. Peralatan lifesaving lainnya yang perlu sangat sederhana yaitu gelang alarm, sebaiknya dipakai oleh pasien dengan DM

Apakah Komplikasi Kronis Diabetes?

Komplikasi2 diabetes ini berhubungan dengan penyakit pembuluh darah dan biasanya digolongkan dalam penyakit pembuluh darah kecil, seperti pada organ mata, ginjal, dan saraf (penyakit mikrovaskuler) dan penyakit pembuluh darah besar, seperti pada jantung dan pembuluh darah (penyakit makrovaskuler). Diabetes mempercepat pengerasan arteri (atherosclerosis) dari pembuluh2 darah besar, menyebabkan penyakit jantung koroner (angina atau serangan jantung), stroke, dan nyeri tungkai bawah karena kekurangan supply darah (claudication)

Komplikasi pada mata

Komplikasi utama mata pada pasien diabetes disebut diabetic retinopathy. Diabetic retinopathy terjadi pada pasien yang mempunyai diabetes setidaknya 5 tahun. Penyakit pembuluh darah kecil pada belakang mata menyebabkan perlekatan protein dan darah pada retina. Penyakit pembuluh darah ini juga menyebabkan pembentukan aneurisma (microaneurysms) dan pembuluh darah baru tapi rapuh (neovascularization). Perdarahan spontan dari pembuluh darah baru tapi rapuh dapat menyebabkan parut retina dan pelepasan retina sehingga terjadi gangguan penglihatan.

Untuk pengobatan retinopathy digunakan laser untuk menghancurkan dan mencegah kambuh kembali pembentukan aneurism dan pembuluh darah baru yg rapuh. Sekitar 50% pasien dengan DM akan mengalami retinopathy setelah 10 tahun dan 80% mendapatkan retinopathy setelah 15 tahun. Kontrol gula darah dan tekanan darah yang buruk akan memperburuk penyakit mata karena diabetes.

Katarak dan glaucoma juga lebih sering pada orang dengan diabetes. Penting untuk memperhatikan lewatnya cairan pd lensa mata, jika konsentrasi gula darah sangat bervariasi, lensa mata akan mengerut dan membengkak. Sebagai akibatnya, penglihatan yang kabur umum pada diabetes dg control gula darah yg buruk. Pasien biasanya diberi resep kacamata baru setelah gula darahnya terkontrol. Ini dilakukan untuk mendapatkan penilaian yang akurat terhadap kacamata yang diperlukan.

Kerusakan ginjal

Kerusakan ginjal karena diabetes disebut diabetic nephropathy. Waktu mula dan perkembangannya sangat bervariasi. Diawali penyakit pembuluh darah kecil pada ginjal menyebabkan perlekatan protein pada urin. Setelah itu, ginjal akan kehilangan kemampuannya untuk membersihkan dan menyaring darah. Penumpukan produk buangan beracun dalam darah menyebabkan perlunya dialysis/cuci darah. Dialysis menggunakan suatu mesin yang berfungsi seperti ginjal dengan menyaring dan membersihkan darah. Pada pasien yang tidak ingin melakukan cuci darah, cangkok ginjal dapat dipertimbangkan.

Perkembangan nephropathy pada pasien dapat diperlambat secara signifikan dengan mengontrol tekannan darah tinggi dan dengan secara agresif mengobati kadar gula darah yang tinggi. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor) atau angiotensin receptor blocker (ARB) digunakan untuk menerapi tekanan darah tinggi yang juga menguntungkan bagi pasien penyakit ginjal dengan DM.

Kerusakan saraf

Kerusakan saraf karena diabetes disebut juga diabetic neuropathy dan juga disebabkan oleh penyakit pembuluh darah kecil. Pada pokoknya, curah darah ke saraf terbatas, menyebabkan saraf tanpa curah darah, dan menjadi rusak atau mati (dikenal dengan istilah ischemia). Gejala kerusakan sraf karena diabetes meliputi mati rasa, rasa terbakar, dan nyeri pada kaki, pasien juga bisa tidak merasakan luka pada kakinya, dan gagal untuk melindunginya dengan baik. Sepatu atau pelindung lain harus dipakai sebisanya. Luka kecil pada kulit harus dirawat dengan tepat untuk menghindari infeksi serius. Karena sirkulasi darah yang buruk, luka diabetic pada kaki dapat tidak sembuh. Kadang2, luka kecil pada kaki dapat menyebabkan infeksi serius, luka bernanah, bahkan gangrene (jaringan mati) dimana memerlukan amputasi pada jempol, kaki dan bagian terinfeksi lain.

Kerusakan saraf karena diabetes dapat mempengaruhi saraf yang penting untuk ereksi penis, menyebabkan erectile dysfunction (ED, impotensi). Gangguan ini juga dapat disebabkan oleh kurangnya curah darah ke penis akibat penyakit pembuluh darah karena diabetes.

Diabetic neuropathy juga dapat mempengaruhi saraf lambung dan usus, menyebabkan mual, penurunan berat badan, diare dan gejala lain gastroparesis (tertundanya pengosongan isi lambung ke usus, karena kontraksi otot lambung yang tidak efektif)

Nyeri pada kerusakan saraf karena diabetes dapat merespon baik terapi dengan:

  • gabapentin (neurontin)
  • phenytoin (dilantin)
  • carbamazepine (tegretol)
  • desipramine (norpraminine)
  • amitriptyline (elavil)
  • atau dengan capsaicin (ekstract lada)

Gabapentin (neurontin), phenytoin (dilantin) dan karbamazepine (tegretol) adalah obat yang secara tradisional digunakan untuk terapi seizure disorder. Amitriptyline (elavil) dan desipramine (norpraminine) adalah obat yang secara tradisional digunakan untuk depresi. Karena obat2 tersebut tidak secara khusus diindikasikan untuk terapi nyeri saraf yang berhubungan dengan diabetes, maka obat2 tersebut biasa digunakan oleh dokter.

Nyeri saraf karena diabetes dapat juga diobati dengan control gula darah, meskipun sayangnya control gula darah dan sumber dari neuropathy tidak selalu berkaitan. Obat yang lebih baru untuk nyeri saraf sudah ada di pasar AS. Pregabalin (Lyrica) yang mempunyai indikasi untuk nyeri neuropathy karena diabetes dan duloxetine (Cymbalta) adalah obat yang lebih baru untuk terapi diabetic neuropathy.

Apa yang dapat dilakukan untuk memperlambat komplikasi diabetes?

Berdasarkan Diabetes Control and Complication Trial (DCCT) dan United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) telah dengan jelas menunjukkan bahwa control yang intensif dan agresif atas kenaikan kadar gula darah pada pasien DM tipe 1 dan tipe 2 akan menurunkan komplikasi nephropathy, neuropathy, retinopathy, dan mengurangi kejadian dan keparahan penyakit pembuluh darah besar. Control yang agresif dan terapi yang intensif artinya mendapatkan glukosa puasa antara 70-120 mg/dl, kadar glukosa kurang dari 160 mg/dl sesudah makan dan kadar hemoglobin A1C mendekati normal.

Penelitian pada pasieen DM tipe 1 menunjukkan bahwa dengan terapi yang intensif, penyakit mata karena diabetes menurun 76%, penyakit ginjal menurun 54%, dan penyakit saraf menurun 60%. Yang terbaru, menunjukkan bahwa DM tipe 1 juga berhubungan dengan peningkatan penyakit jantung, mirip dengan diabetes tipe 2. Namun, harga dari control gula darah yang agresif adalah 2-3 kali lipat peningkatan kejadian kadar gula darah rendah yang abnormal (disebabkan oleh obat diabetes). Untuk alas an ini, control ketat diabetes untuk mencapai kadar gula darah antara 70-120 mg/dl tidak direkomendasikan untuk anak dibawah 13 tahun, pasien dengan hipoglikemia kambuhan yang berat, pasien yang tidak bisa menyadari hipoglikemia, dan pasien dengan komplikasi diabetes lanjut. Untuk memperoleh control glukosa optimal tanpa resiko penurunan gula darah abnormal, pasien dengan DM tipe 1 harus memonitor glukosa darahnya pada setidaknya 4 kali sehari dan menggunakan insulin setidaknya 3 kali sehari. Pada pasien dengan diabetes tipe 2, control gula darah secara agresif mempunyai efek menguntungkan yg sama pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah.

Sekilas Diabetes

  • Diabetes adalah kondisi kronis yang berhubungan dengan kadar gula (glukosa)abnormal dalam darah.
  • Insulin yang dihasilkan oleh pancreas menurunkan glukosa darah
  • Tidak adanya atau tidak cukupnya produksi insulin menyebabkan diabetes
  • Dua tipe diabetes adalah DM tipe 1 (tergantung insulin) dan DM tipe 2 (tidak tergantung insulin)
  • Gejala diabetes meliputi peningkatan pengeluaran urin, rasa haus dan lapar dan juga fatigue/keletihan
  • Diabetes didiagnosa dengan test glukosa darah.
  • Komplikasi utama diabetes ada akut dan kronik

1. Akut: peningkatan gula darah yang bahaya, gula darah rendah yang abnormal akibat pengobatan

2. Kronis: penyakit pembuluh darah (kecil dan besar) yang dapat merusak mata, ginjal, saraf, dan jantung

  • Terapi diabetes tergantung pada tipe dan tingkat keparahan diabetes. DM tipe 1 diterapi dengan insulin, latihan dan diet diabetic. DM tipe 2 pertama diterapi denganpengurangan berat badan, diet diabetic, dan latihan. Jika cara ini gagal, medikasi oral digunakan. Jika obat oral tidak mencukupi, pengobatan dengan insulin dipertimbangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: