Stroke / CVA

Apa itu stroke?

Stroke, atau cerebrovascular accident (CVA), terjadi ketika suplai darah ke bagian tertentu otak terganggu, menyebabkan matinya sel-sel otak. Ketika aliran darah ke otak memburuk, oksigen dan glukosa tidak dapat dikirimkan ke otak. Aliran darah dapat terganggu oleh bermacam-macam mekanisme.

Penyumbatan suatu arteri

  • Penyempitan arteri-arteri kecil di dalam otak dapat menyebabkan apa yang disebut “lacunar stroke” (lacuna= ruang kosong). Penutupan satu arteri tunggal dapat berefek pada area kecil otak menyebabkan kematian jaringan tersebut (infark)
  • Pengerasan arteri (atherosclerosis) menuju ke otak. Terdapat empat pembuluh darah utama yang mensuplai darah ke otak. Sirkulasi bagian depan (anterior) otak yang mengendalikan sebagian besar gerakan (motorik), aktivitas, sensasi, berpikir, bicara, dan emosi disuplai oleh arteri carotis. Sirkulasi belakang (posterior) otak, yang mensuplai batang otak dan otak kecil (cerebelum), mengendalikan bagian otomatis fungsi otak dan koordinasi, disuplai oleh arteri vertebrobasilar.

Jika arteri-arteri ini mengalami penyempitan sebagai akibat atherosclerosis, plak atau kolesterol, dapat lepas dan hanyut ke dalam aliran darah dan menghambat suplai darah ke bagian tertentu otak. Sebagai kebalikan dari lacunar stroke, bagian otak yang lebih besar dapat kehilangan suplai darah, dan ini mungkin dapat menyebabkan gejala yang lebih banyak dari pada lacunar stroke.

  • Emboli ke otak dari jantung. Pada situasi dimana bekuan darah di dalam jantung, ada potensi bekuan darah kecil terlepas dan berjalan (emboli) ke arteri di otak dan menyebabkan stroke.

Pecahnya suatu arteri (hemorhage/perdarahan)

  • Perdarahan otak (perdarahan di dalam substansi otak). Penyebab paling sering terjadinya perdarahan di dalam otak adalah tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Situasi lain meliputi aneurisma yang bocor atau pecah atau arteriovenous malformation (AVM) dimana terdapat suatu kumpulan pembuluh darah abnormal yang lemah dan dapat berdarah.

Apa penyebab stroke?

Penyumbatan suatu arteri

Penyumbatan suatu arteri di dalam otak oleh gumpalan (trombosis) merupakan penyebab tersering stroke. Bagian otak yang disuplai pembuluh darah yang tersumbat tersebut akan kehilangan suplai darah dan oksigen. Sebagai akibat dari hilangnya suplai darah dan oksigen, sel-sel bagian otak tersebut menjadi mati. Bentukan gumpalan di dalam pembuluh darah kecil di dalam otak yang sebelumnya telah menyempit akibat berbagai macam faktor resiko meliputi:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Kolesterol tinggi
  • Diabetes
  • Merokok

Stroke emboli

Tipe lain stroke dapat terjadi ketika suatu bekuan darah atau suatu potongan plak aterosclerosis (sisa-sisa kolesterol dan calcium pada dinding dalam jantung atau arteri) lepas, kemudian mengalir di dalam arteri dan tersangkut di suatu arteri otak. Ketika ini terjadi, aliran darah yang kaya oksigen ke otak terblokir dan terjadilah stroke. Tipe stroke ini disebut dengan stroke emboli. Sebagai contoh, suatu bekuan darah mungkin terbentuk di bilik jantung sebagai akibat dari irama jantung yang tidak teratur, seperti yang terjadi pada atrium fibrilasi. Biasanya, bekuan ini tetap menempel pada lapisan dalam jantung, tetapi kadang-kadang dapat terlepas dan melakukan perjalanan di dalam aliran darah, membentuk sumbatan (emboli) pada suatu arteri otak, dan menyebabkan stroke. Suatu emboli dapat juga berasal dari arteri besar (seperti, arteri carotis, suatu arteri besar di leher yang mensuplai darah ke otak) dan kemudian berjalan bersama aliran darah dan menyumbat suatu arteri kecil di dalam otak.

Perdarahan otak

Suatu perdarahan otak terjadi ketika suatu pembuluh darah di dalam otak pecah dan menimbulkan perdarahan ke dalam jaringan otak sekitarnya. Suatu perdarahan otak dapat menyebabkan suatu stroke akibat hilangnya darah dan oksigen ke bagian otak. Darah juga sangat mengiritasi otak dan dapat menyebabkan pembengkakan jaringan otak (edema serebral). Pembengkakan dan terkumpulnya darah dari perdarahan meningkatkan tekanan di dalam tengkorak dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut akibat penekanan otak oleh tulang tengkorak

Perdarahan subarachnoid

Pada perdarahan subarachnoid, darah terkumpul pada ruang antara membran arachnoid yang melapisi otak. Darah berasal dari suatu pembuluh darah abnormal yang bocor atau pecah. Seringnya ini berasal dari suatu aneurisma (suatu penggelembungan abnormal dinding pembuluh darah). Perdarahan subarachnoid biasanya menyebabkan sakit kepala berat dan rasa kaku di leher. Jika tidak diketahui dan tidak diterapi, konsekuensi neurologis yang berat, seperti koma dan kematian otak akan terjadi.

Vasculitis

Penyebab lain stroke yang jarang adalah vasculitis, suatu kondisi dimana pembuluh darah mengalami peradangan.

Sakit kepala Migrain

Nampaknya terdapat suatu peningkatan ringan kejadian stroke pada orang-orang dengan riwayat sakit kepala migrain. Terjadinya migrain atau sakit kepala vascular adalah salah satunya karena penyempitan pembuluh darah otak. Beberapa episode migrain dapat disertai stroke mimik dengan hilangnya fungsi satu sisi tubuh atau masalah penglihatan dan bicara. Biasanya, gejala hilang ketika sakit kepala hilang.

Apa sajakah faktor resiko terjadinya stroke?

Faktor resiko terjadinya stroke paling sering adalah:

  • tekanan darah tinggi
  • kolesterol tinggi
  • merokok
  • diabetes
  • penambahan usia

Gangguan irama jantung seperti atrium fibrilasi, foramen ovale yang menetap dan penyakit katup jantung juga dapat menjadi penyebab stroke.

Ketika stroke terjadi pada individu yang masih berusia muda (kurang dari 50 tahun), faktor resiko yang jarang harus dipertimbangkan termasuk pemakaian obat-obat terlarang, seperti kokain atau ampetamin, pecahnya aneurisma, dan predisposisi keturunan (genetik) adanya pembekuan darah.

Suatu contoh predisposisi genetik untuk terjadinya stroke adalah suatu kondisi yang jarang yang disebut homocystinuria, dimana terdapat kadar yang berlebihan zat kimia homocystine di dalam tubuh. Para ilmuwan sedang berusaha untuk menentukan apakah kejadian kadar tinggi homocystine pada umur berapapun yang tidak karena keturunan dapat menyebabkan stroke.

Apakah transient ischemic attack (TIA) itu?

Transient ischemic attack (TIA) adalah suatu episode pendek (kurang dari 24 jam) kerusakan sementara otak yang disebabkan oleh hilangnya suplai darah. Suatu TIA menyebabkan hilangnya fungsi area tubuh yang dikendalikan oleh bagian otak yang terkena. Hilangnya suplai darah ke otak paling sering disebabkan oleh suatu bekuan yang secara spontan terbentuk di dalam pembuluh darah di dalam otak (trombosis). Namun, juga dapat disebabkan oleh suatu bekuan yang terbentuk di tempat lain di dalam tubuh, lepas dari tempat tersebut dan berjalan kemudian tersangkut di suatu arteri otak (emboli). Suatu pengerutan (spasm) dan perdarahan (jarang) adalah penyebab lain TIA. Banyak orang menyebut TIA sebagai “ministroke”.

Beberapa TIA berkembang perlahan, sementara yang lain dapat berkembang dengan cepat. Berdasarkan definisi, semua TIA sembuh dalam 24 jam. Stroke perlu waktu lebih lama untuk sembuh dan fungsi bisa tidak pernah kembali seperti semula dan menyebabkan masalah yang lebih serius dan permanen. Meskipun kebanyakan TIA sering hanya beberapa menit, semua TIA sebaiknya dievaluasi dengan urgensi yang sama seperti stroke untuk mencegah terjadi kembali atau terjadi stroke. TIA dapat terjadi hanya sekali, beberapa kali atau  diikuti terjadinya stroke permanen. Suatu TIA sebaiknya dipertimbangkan sebagai suatu keadaan emergensi karena tidak adanya jaminan bahwa situasi ini akan membaik dan fungsi akan kembali normal.

Suatu TIA dari suatu bekuan  pada mata dapat menyebabkan hilangnya penglihatan sementara (amaurosis fugax), yang sering digambarkan sebagai suatu sensasi gorden yang menutup secara menurun. Suatu TIA yang melibatkan arteri carotis (pembuluh darah terbesar penyuplai darah ke otak) dapat menyebabkan masalah gerakan dan sensasi pada satu sisi tubuh yang merupakan sisi berseberangan dengan sisi yang tersumbat. Pasien yang mengalaminya dapat menderita kelumpuhan lengan, kaki dan wajah, semuanya pada satu sisi. Penglihatan ganda, pusing (vertigo) dan hilangnya kemampuan bicara, pemahaman, dan keseimbangan dapat juga merupakan gejalanya tergantung bagian mana otak yang mengalami pengurangan suplai darah.

Apa sajakah dampak stroke?

Di USA, stroke merupakan penyebabkematian terbesar ketiga (setelah penyakit jantung dan semua bentuk kanker). Ongkos akibat stroke tidak hanya dihitung dalam milyar dolar yang hilang akibat hilangnya jam kerja, perawatan rumah sakit, dan perawatan di rumah. Ongkos atau dampak utama  akibat stroke adalah hilangnya kemerdekaan yang terjadi pada 30% mereka yang hidup. Gaya hidup mandiri menjadi kehilangan kualitasnya setelah terjadinya stroke dan anggota keluarga yang lain dapat menemukan dirinya dalam suatu peran baru sebagai seorang perawat.

Apa sajakah gejala stroke?

Ketika sel-sel otak kehilangan oksigen, mereka berhenti melakukan tugas rutinnya. Gejala akibat stroke tergantung pada area otak yang terkena dan jumlah jaringan otak yang rusak. stroke kecil dapat tidak menyebabkan gejala apa pun tetapi  masih dapat merusak jaringan otak. Stroke  yang tidak menimbulkan gejala ini  disebut juga silent stroke. Berdasarkan The U.S. National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), berikut ini adalah lima tanda utama stroke:

1.       Mati rasa atau kelemahan tiba-tiba pada wajah, lengan atau kaki, khususnya pada satu sisi tubuh. Hilangnya gerakan yang disadari dan/atau sensasi bisa total atau sebagian. Bisa juga terdapat sensasi geli pada area yang terkena.

2.       Kebingungan tiba-tiba atau masalah bicara atau pemahaman. Kadang kelemahan pada otot wajah dapat menyebabkan berliur.

3.       Masalah penglihatan pada salah satu atau kedua mata tiba-tiba.

4.       Masalah berjalan, pusing, hilangnya keseimbangan koordinasi tiba-tiba.

5.       Sakit kepala berat tiba-tiba tanpa sebab jelas.

Apa yang seharusnya dilakukan jika anda menduga diri anda atau orang lain mengalami stroke?

Jika gejala apa pun yang telah disebutkan di atas tiba-tiba muncul, perawatan medis emergensi sebaiknya  segeara dicari. Oleh karena itu, tindakan pertama yang seharusnya dilakukan adalah menelepon 911 (atau nomer apapun yang diaktifkan untuk merespon keadaan emergensi di wilayah anda). Dokter keluarga dan/atau dokter ahli saraf sebaiknya juga dihubungi. Namun, prioritas pertama adalah meyakinkan bahwa ambulance tiba secepat mungkin.

  • Orang yang mengalami stroke harus dibaringkan datar untuk mendapatkan aliran darah optimal ke otak.
  • Jika keadaannya mengantuk, tidak responsif, atau adanya mual, orang tersebut sebaiknya ditempatkan pada posisi miring untuk mencegah tersedak jika terjadi muntah.
  • Meskipun aspirin memainkan peranan utama dalam pencegahan stroke (lihat bawah), saat gejala stroke mulai, umumnya direkomendasikan bahwa aspirin tidak boleh diberikan sampai pasien menerima pemeriksaan medis. Jika stroke adalah tipe perdarahan, aspirin secara teoritis dapat memperburuk keadaan.

Cincinnati Prehospital Stroke Scale (CPSS)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh University of North Carolina, tiga perintah dapat digunakan untuk menilai apakah seseorang mengalami stroke atau tidak. Orang awam dapat memerintahkan kepada kemungkinan korban stroke untuk:

1.      . tersenyum

2.      Mengangkat kedua lengan

3.      Mengatakan kalimat sederhana

Ketiga perintah tersebut, yang dikenal dengan Cincinnati Prehospital Stroke Scale (CPSS) digunakan oleh profesional kesehatan sebagai suatu langkah simpel pertama sebagai proses penilaian terhadap tanda-tanda stroke. jika seseorang mengalami kesulitan dengan perintah sederhana tersebut, pelayanan emergensi harus segera didapatkan .

Bagaimana stroke didiagnosa?

Stroke adalah suatu keadaan emergensi medis. Setiap orang yang diduga mengalami stroke seharusnya segera dibawa ke fasilitas medis untuk evaluasi dan terapi. Pertama-tama, dokter akan menanyakan riwayat medis pasien jika terdapat tanda-tanda bahaya sebelumnya dan melakukan pemeriksaan fisik. Jika seseorang telah diperiksa seorang dokter tertentu, akan menjadi ideal jika dokter tersebut ikut berpartisipasi dalam penilaian. Pengetahuan sebelumnya tentang pasien tersebut dapat meningkatkan ketepatan penilaian. Seorang dokter ahli saraf, seorang dokter yang mempunyai spesialisasi pada gangguan sistem saraf dan penyakit otak, akan sering menilai dalam hal diagnosis dan manajemen penanganan pasien stroke.

Hanya karena seseorang mempunyai gangguan bicara atau kelemahan pada satu sisi tubuh tidaklah sinyal kejadian stroke. terdapat banyak kemungkinan lain yang mungkin bertanggung jawab untuk gejala ini. Kondisi lain yang dapat serupa stroke meliputi:

  • tumor otak
  • abses otak (kumpulan nanah di dalam otak karena bakteri atau jamur)
  • sakit kepala migrain
  • perdarahan otak baik secara spontan atau karena trauma
  • meningitis atau encephalitis
  • overdosis karena obat tertentu
  • ketidakseimbangan calcium atau glukosa dalam tubuh dapat juga menyebabkan perubahan sistem saraf yang serupa dengan stroke.

Pada evaluasi stroke akut, banyak hal akan terjadi pada waktu yang sama. Pada saat dokter mencari informasi riwayat pasien dan melakukan pemeriksaan fisik, perawat akan mulai memonitor tanda-tanda vital pasien, melakukan tes darah dan melakukan pemeriksaan EKG ( elektrokardiogram).

Bagian dari pemeriksaan fisik yang menjadi standar adalah penggunaan skala stroke. The American Heart Association telah mempublikasikan suatu pedoman pemeriksaan sistem saraf untuk membantu penyedia perawatan menentukan berat ringannya stroke dan apakah intervensi agresif mungkin diperlukan.

Terdapat batasan  waktu yang sempit untuk menghalangi suatu stroke akut dengan obat untuk memperbaiki suplai darah yang hilang pada bagian otak. Pasien  memerlukan evaluasi yang sesuai dan stabilisasi sebelum obat penghancur bekuan darah apapun dapat digunakan.

Computerized tomography (CT scan): untuk membantu menentukan penyebab seorang terduga stroke, suatu pemeriksaan sinar x khusus yang disebut CT scan otak sering dilakukan. Suatu CT scan digunakan untuk mencari perdarahan atau massa di dalam otak, situasi yang sangat berbeda dengan stroke yang memerlukan penanganan yang berbeda pula.

MRI scan: Magnetic resonance imaging (MRI) menggunakan gelombang magnetik untuk membuat gambaran otak. Gambar yang dihasilkan MRI jauh lebih detail jika dibandingkan dengan CT scan, tetapi ini bukanlah pemeriksaan garis depan untuk stroke. jika CT scan dapat selesai dalam beberapa menit, MRI perlu waktu lebih dari satu jam. MRI dapat dilakukan kemudian selama perawatan  pasien jika detail yang lebih baik diperlukan untuk pembuatan keputusan medis lebih lanjut. Orang dengan peralatan medis tertentu (seperti, pacemaker) atau metal lain di dalam tubuhnya, tidak dapat dijadikan subyek pada daerah magneti kuat suatu MRI

Metode lain teknologi MRI: suatu MRI scan dapat juga digunakan untuk secara spesifik melihat pembuluh darah secara non invasif (tanpa menggunakan pipa atau injeksi), suatu prosedur yang disebut MRA (magnetic resonance angiogram). Metode MRI lain disebut dengan diffusion weighted imaging (DWI) ditawarkan di beberapa pusat kesehatan. Teknik ini dapat mendeteksi area abnormal beberapa menit setelah aliran darah ke bagian otak yang berhenti, dimana MRI konvensional tidak dapat mendeteksi stroke sampai lebih dari 6 jam dari saat terjadinya stroke, dan CT scan kadang-kadang tidak dapat mendeteksi sampai 12-24 jam. Sekali lagi, ini bukanlah test garis depan untuk mengevaluasi pasien stroke.

Computerized tomography dengan angiography: menggunakan zat warna yang disuntikkan ke dalam vena di lengan, gambaran pembuluh darah di otak dapat memberikan informasi tentang aneurisma atau arteriovenous malformation. Seperti abnormalitas aliran darah otak lainnya dapat dievaluasi dengan peningkatan teknologi canggih, CT angiography menggeser angiogram konvensional.

Conventional angiogram: suatu angiogram adalah tes lain yang kadang-kadang digunakan untuk melihat pembuluh darah. Suatu pipa kateter panjang dimasukkan ke dalam arteri (biasanya di area selangkangan) dan zat warna diinjeksikan sementara foto sinar-x secara bersamaan diambil. Meskipun angiogram memberikan gambaran anatomi pembuluh darah yang paling detail, tetapi ini juga merupakan prosedur yang invasif dan digunakan hanya jika benar-benar diperlukan. Misalnya, angiogram dilakukan setelah perdarahan jika sumber perdarahan perlu diketahui dengan pasti. Prosedur ini juga kadang-kadang dilakukan untuk evaluasi yang akurat kondisi arteri carotis ketika pembedahan untuk membuka sumbatan pembuluh darah dipertimbangkan untuk dilakukan.

Carotid Doppler ultrasound: adalah suatu metode non-invasif (tanpa injeksi atau penempatan pipa) yang menggunakan gelombang suara untuk menampakkan penyempitan dan penurunan aliran darah pada arteri carotis (arteri utama di leher yang mensuplai darah ke otak)

Tes jantung: tes tertentu untuk mengevaluasi fungsi jantung sering dilakukan pada pasien  stroke untuk mencari sumber emboli. Echocardiogram adalah  tes dengan gelombang suara yang dilakukan dengan menempatkan peralatan microphone pada dada atau turun melalui esophagus (transesophageal achocardiogram) untuk melihat bilik jantung. Monitor Holter  sama dengan electrocardiogram (EKG), tetapi elektrodanya tetap menempel pada dada selama 24 jam atau lebih lama untuk mengidentifikasi irama jantung yang abnormal.

Tes darah: tes darah seperti sedimentation rate dan C-reactive protein yang dilakukan untuk mencari tanda peradangan yang dapat memberi petunjuk adanya arteri yang mengalami peradangan. Protein darah tertentu yang dapat meningkatkan peluang terjadinya stroke karena pengentalan darah  juga diukur. Tes ini dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab stroke yang dapat diterapi atau untuk membantu mencegah perlukaan lebih lanjut. Tes darah screening mencari infeksi potensial, anemia, fungsi ginjal dan abnormalitas elektrolit mungkin juga perlu dipertimbangkan.

Bagaimana terapi stroke?

Tissue plasminogen activator (TPA)

Terdapat peluang untuk menggunakan alteplase (TPA) sebagai obat pembasmi bekuan darah untuk memecahkan bekuan darah penyebab stroke. makin awal obat tersebut diberikan , makin baik hasilnya dan makin berkurangnya potensi komplikasi perdarahan dalam otak.

Pedoman American Heart Association yang terbaru merekomendasikan jika obat ini digunakan, TPA harus diberikan dalam 3 jam setelah pertama kali munculnya gejala. Normalnya, TPA diinjeksikan ke dalam vena pada lengan. Batas waktu pemakaian dapat diperpanjang sampai 6 jam jika diberikan dalam tetesan langsung ke pembuluh darah yang tersumbat. Ini biasa dilakukan oleh seorang ahli radiologi intervensi, dan tidak semua rumah sakit mempunyai akses terhadap teknologi ini.

Untuk stroke sirkulasi bagian bawah yang melibatkan sistem vertebrobasilar, batas waktu terapi dengan TPA dapat diperpanjang hingga lebih lama sampai 18 jam.

Heparin dan aspirin

Obat-obat untuk darah yang kental (antikoagualan; seperti, heparin) juga kadang-kadang digunakan untuk menerapi pasien stroke dengan harapan terjadi peningkatan pemulihan pasien. Namun tidaklah jelas, apakah penggunaan antikoagulan memperbaiki hasil akhir pengobatan stroke atau secara sederhana membantu mencegah stroke berikutnya (subsequent stroke). pada pasien tertentu, aspirin diberikan setelah munculnya stroke benar-benar memberikan efek pemulihan yang walaupun kecil tapi terukur. Dokter yang menerapi akan menentukan obat-obatan yang digunakan berdasasrkan kebutuhan spesifik pasien

Mengelola masalah medis lainnya

Pengontrolan tekanan darah tinggi dan kolesterol merupakan kunci untuk mencegah kejadian stroke di masa dtang. Pada Transient Ischemic Attack (TIA), pasien mungkin diberikan obat meskipun tekanan darah dan kadar kolesterolnya masih bisa diterima. Pada stroke akut, tekanan darah akan dikontrol dengan ketat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Pada pasien dengan diabetes, kadar gula darah (glukosa) sering meningkat setelah stroke. pengendalian kadar glukosa pada pasien ini dapat meminimalkan ukuran stroke. akhirnya, oksigen dapat diberikan kepada pasien stroke jika memang diperlukan.

Rehabilitasi

Jika seorang pasien tidak lagi menderita sakit akut setelah suatu stroke, staf perawatan kesehatan memfokuskan pada pemaksimalan kemampuan fungsi pasien. Hal ini sering dilakukan di rumah sakit rehabilitasi atau area khusus di rumah sakit umum. Rehabilitasi juga dapat bertempat di fasilitas perawat.

Proses rehabilitasi dapat meliputi beberapa atau semua hal di bawah ini:

1.      terapi bicara untuk belajar kembali berbicara dan menelan

2.      terapi okupasi untuk mendapatkan kembali ketangkasan lengan dan tangan

3.      terapi fisik untuk memperbaiki kekuatan dan kemampuan berjalan, dan

4.      edukasi keluarga untuk memberikan orientasi kepada mereka dalam merawat orang yang mereka cintai di rumah dan tantangan yang akan mereka hadapi.

Ketika seorang pasien stroke telah siap untuk pulang ke rumah, seorang perawat sebaiknya datang ke rumah selama periode waktu tertentu sampai keluarga terbiasa dengan merawat pasien dan prosedur untuk memberikan bermacam obat. Terapi fisik dapat dilanjutkan di rumah. Pada akhirnya pasien biasa ditinggalkan di rumah dengan satu atau lebih orang yang menjaganya, yang sekarang mendapati hidupnya telah sangat berubah. Merawat pasien stroke di rumah dapat sangat mudah atau sangat tidak mungkin. Pada waktunya, ini akan menjadi jelas bahwa pasien harus ditempatkan pada fasilitas perawatan yang terlatih karena perawatan yang sesuai tidak dapat diberikan di rumah walaupun keluarga bermaksud baik untuk merawatnya.

Komplikasi apa saja yang bisa terjadi setelah stroke?

Suatu stroke dapat menjadi buruk walaupun tiba di rumah sakit dengan segera dan mendapatkan terapi medis yang sesuai. Tidaklah luar biasa untuk suatu stroke dan serangan jantung terjadi pada waktu yang bersamaan atau pada saat yang sangat berdekatan.

Selama kondisi akut, pembengkakan dapat terjadi. Kelemahan yang menyebabkan lengan, tungkai dan sisi wajah dapat juga berdampak pada otot-otot menelan. Stroke yang menyebabkan gangguan bicara tampaknya merupakan predisposisi pada abnormalitas mekanisme menelan. Ketika makanan dan air ludah masuk ke trachea bukan oesophagus ketika makan atau menelan, pneumonia atau infeksi paru-paru dapat terjadi. Penelanan yang abnormal dapat juga terjadi akibat gangguan bicara.

Karena suatu stroke sering mengakibatkan imobilitas, bekuan darah dapat terjadi di vena kaki (trombosis vena dalam). Ini dpat merupakan resiko terjadinya bekuan darah yang berjalan naik dan tersangkut di paru-paru- suatu keadaan yang mengancam hidup (emboli paru-paru). Ada banyak cara dimana terapi dokter dapat membantu mencegah bekuan darah di kaki ini. Imobilitas yang lama dapat juga menyebabkan luka tekan (kerusakan kulit, disebut ulcus decubitus), yang dapat dicegah dengan sering mengubah posisi pasien oleh perawat atau orang yang merawatnya.

Pasien stroke sering mempunyai masalah depresi sebagai bagian dari proses pemulihan, yang perlu dikenali dan diterapi.

Prognosis stroke berhubungan dengan beratnya stroke dan berapa besar kerusakan otaknya. Beberapa pasien kembali mendekati kondisi normal dengan kekakuan atau gagnguan bicara yang minimal. Banyak pasien stroke yang menjadi mengalami masalah permanen seperti hemiplegia (kelemahan satu sisi tubuh), aphasia (kesulitan atau ketidakmampuan bicara), atau inkontinensia rektum dan atau kandung kemih. Terdapat jumlah yang signifikan orang yang menjadi tak sadar dan meninggal akibat stroke mayor.

Jika suatu stroke masif dan merusak kemampuan berpikir atau fungsi seseorang, keluarga akan mengalami suatu kesulitan dalam mengambil keputusan. Dalam kasus ini, kadang-kadang dianjurkan untuk membatasi intervensi medis lebih lanjut. Sering lebih tepat untuk dokter dan keluarga pasien untuk mendiskusikan dan menjalankan perintah untuk tidak meresusitasi pasien dalam kasus henti jantung, karena kualitas hidup pasien akan menjadi sangat jelek. Dalam banyak kasus, keputusan ini dibuat agak lebih mudah jika pasien telah membuat permintaan tersebut saat kondisinya masih baik.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah stroke?

Mengurangi faktor resiko

Tekanan darah tinggi: kemungkinan untuk menderita stroke dapat ditandai terjadinya berkurangnya pengontrolan faktor-faktor resiko. Faktor resiko paling penting untuk terjadinya stroke adalah tekanan darah tinggi. Ketika tekanan darah tinggi seseorang menetap terlalu tinggi, lebih tinggi dari 130/85, resiko terjadinya stroke meningkat sebanding dengan peningkatan tekanan darahnya. Pengontrolan tekanan darah tetap dalam rentang nilai normal akan menurunkan peluang terjadinya stroke.

Merokok: faktor resiko yang penting lainnya adalah rokok atau penggunaan tembakau lainnya. Rokok menyebabkan arteri carotis mengalami atherosclerosis, yang dapat menyebabkan penutupan dan pemblokiran aliran darah ke otak. Atherosclerosis yang biasanya termasuk melibatkan arteri-arteri yang mensuplai darah ke jantung, dipercepat oleh kebiasaan merokok. Jadi, ketika seorang individu merokok, pertanyaan utamanya adalah- mana yang akan terjadi pertama; stroke, serangan jantung atau kanker paru-paru?

Diabetes: faktor resiko lainnya adalah diabetes mellitus. Diabetes menyebabkan pembuluh-pembuluh darah kecil tertutup lebih cepat. Ketika pembuluh-pembuluh darah yang menutup ini berada di otak, stroke kecil (lacunar) dapat terjadi. Kontrol yang bagus terhadap kadar gula darah penting untuk menurunkan faktor resiko stroke pada pasien diabetes. Peningkatan kadar kolesterol darah juga merupakan faktor resiko terjadinya stroke akibat kejadian penyumbatan pembuluh darah (atherosclerosis). Diet yang sehat dan pengobatan dapat membantu menormalkan kembali peningkatan kadar kolesterol darah.

Pengencer darah/warfarin: irama jantung yang tidak teratur (terutama, atrial fibrilasi) berhubungan dengan peningkatan resiko sroke emboli, dimana bekuan darah berjalan dari jantung melewati aliran darah dan masuk ke dalam otak. Warfarin (Coumadin) adalah obat pengencer darah yang mencegah darah mengalami pembekuan. Obat ini sering digunakan pada pasien dengan atrial fibrilasi untuk menurunkan resiko. Warfarin kadang-kadang juga digunakan untuk mnecegah kambuhnya stroke dalam situasi lain, seperti masalah jantung tertentu lainnya dan kondisi dimana darah mempunyai kecenderungan untuk membeku sendiri (keadaan hipercoagulable). Pasien yang  menggunakan warfarin perlu mendapatkan cek darah secara periodik untuk memastikan bahwa dosis terbaru yang mereka gunakan menghasilkan efek yang diharapkan. Pasien dengan warfarin juga perlu mengetahui bahwa mereka dalam kondisi peningkatan resiko terjadinya perdarahan, baik perdarahan luar maupun perdarahan dalam.

Aspirin dan terapi antiplatelet lain: banyak pasien stroke yang tidak memerlukan warfarin dapat menggunakan golongan obat lain yang disebut obat antiplatelet untuk mengurangi resiko menderita stroke lainnya. Obat ini mengurangi kecenderungan darah untuk membeku  (menyumbat) di dalam arteri. Sebagai efek samping pengobatan ini adalah biasanya akan mempunyai kemungkinan perdarahan yang lebih tinggi, tetapi resiko ini lebih kecil jika dibandingkan penggunaan antikoagulan seperti warfarin. Obat antiplatelet yang paling sering diresepkan untuk mencegah terjadinya kembali stroke adalah aspirin. Jika pasien mengalami  reaksi merugikan saat menggunakan aspirin, preparat antiplatelet yang lebih baru dapat digunakan (clopidogrel [Plavix], dipyridamole [Persantine]).

Carotid endarterectomy: dalam banyak kasus, seseorang dapat mengalami suatu TIA atau stroke yang disebabkan oleh penyempitan atau perlukaan arteri carotis (arteri besar di leher yang mensuplai darah ke otak). Jika tidak diterapi, pasien dengan kondisi ini mempunyai resiko tinggi mengalami stroke besar di masa mendatang. Suatu operasi membersihkan arteri carotis dan mengembalikan curah darah normal dikenal dengan carotid endarterectomy. Prosedur ini telah mnunjukkan penurunan yang nyata insidensi stroke ikutan. Pada pasien yang mempunyai arteri carotis yang menyempit, tetapi tanpa gejala, operasi ini dapat diindikasikan untuk mencegah terjadinya stroke pertama.

Bagaimana terapi stroke di masa depan?

Saat ini, penelitian-penelitian sedang dilakukan dalam hal obat-obat tambahan yang dapat menghancurkan bekuan darah. Obat-obat ini diberikan baik melalui vena (seperti TPA) atau langsung  ke dalam arteri yang mengalami penyumbatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pasien stroke yang mana yang dapat mendapatkan keuntungan dari bentuk terapi yang baru dan agresif ini.

Obat-obat baru juga telah diuji yang dapat membantu memperlambat degenerasi sel saraf yang kehilangan suplai oksigen selama stroke. obat-obat ini disebut obat “neuroprotective”, salah satu contohnya adalah sipatrigine. Contoh lainnya adalah chlomethiazole, yang bekrja dengan memodifikasi ekspresi gen di dalam otak (gen yang menghasilkan protein yang menentukan perbaikan individu)

Akhirnya, stem sel, yang potensial berkembang menjadi berbagai organ yang berbeda, digunakan untuk mencoba mengganti sel-sel otak yang rusak karena stroke sebelumnya. Di banyak pusat pendidikan kedokteran, beberapa agen eksperimen mungkin ditawarkan dalam suatu percobaan klinis. Sementara terapi-terapi baru untuk mengobati pasien setelah stroke berada pada horison, terapi-terapi tersebut belumlah sempurna dan mungkin tidak dapat mengembalikan fungsi secara penuh seorang korban stroke.

Sekilas tentang stroke

  • Stroke adalah kematian tiba-tiba sel-sel otak akibat kekurangan oksigen
  • Stroke disebabkan oleh penyumbatan aliran darah atau pecahnya arteri yang menuju ke otak.
  • Kelemahan atau kelumpuhan yang tiba-tiba pada satu sisi tubuh atau kesulitan dengan keseimbangan, bicara, menelan atau penglihatan dapat merupakan gejala stroke.
  • Setiap orang yang dicurigai stroke atau TIA harus mendapatkan perawatan emergensi dengan segera.
  • Obat penghancur bekuan darah akan meminimalkan faktor resiko, seperti pengontrolan tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, pemakaian tembakau, dan diabetes.

Satu Tanggapan to “Stroke / CVA”

  1. rere Says:

    mas or mbak please dikasih pathwayna coz
    penting bgt, thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: