Kasus Prita, Hukum tanpa Nurani

“Cara berhukum tidak hanya satu. Dalam kasus Prita dan debat yang menyertainya, cara berhukum masih dipahami sebagai berhukum dengan undang-undang. Jaksa dan polisi juga memperdebatkan prosedur.

Secara sosiologis, akhirnya hukum adalah aneka putusan manusia yang menjalankan sehingga amat rentan terhadap pikiran dan sikap batin manusia yang menjalankan. Polisi, jaksa dan hakim dapat berbeda dalam putusan tentang apa yang harus dilakukan. rentang perbedaan putusan itu mulai dari menahan dan memproses sampai ke membebaskan (acquittal, discharge) pelaku. Faktor yang melatarbelakangi perbedaan adalah sikap batin, seperti empati. Dalam sosiologi hukum, faktor disposisi nurani terkait erat dengan tindakan seorang penegak hukum.

Seorang polisi atau jaksa yang bekerja dengan nurani (with conscience) akan menghasilkan putusan berbeda dibandingkan yang bekerja hanya berdasarkan book-rule atau “mengeja teks”. Hipotesis atas kasus Prita adalah jika perkara itu jatuh di tangan penegak hukum dengan hati nurani, putusannya bisa lain.” (SATJIPTO RAHARDJO, Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Undip, Semarang. Sumb: KOMPAS, 8 Juni 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: